Jatuh ....yang tak mengundang orang simpati ialah jatuh cinta.CINTA adalah fitrah dan karunia ILLAHI.Tidak ada siapapun yang dapat melarikan diri daripada mencintai dan dicintai.Namun demikian , puncak CINTA........ada orang masuk surga karena CINTA dan tak sedikit orang yang di hujam ke neraka gara-gara CINTA.CINTA yang bagaimana yang bisa membawa seseorang ke surga?
CINTA yang dialirkan oleh ALLAH kedalam hati, itulah CINTA yang benar, suci lagi murni.CINTA yang bukan diukur ikut pandangan mata,tapi ikut pandangan ALLAH.Ia ada karena ALLAH dan CINTA diberipun untuk dapat keridhoan ALLAH.CINTA begini tiada batasannya.Tidak pula kenal jenis kelamin dan kedudukan.Dan CINTA lahir hasil dari samaCINTA pada ALLAH.
CINTA ynag sesungguhnya ini bisa berlaku pada lelaki dan lelaki,perempuan dengan perempuan,lelaki dengan perempuan,antara murid dengan guru,suami dengan istri,sahabat dengan sahabat,rakyat dengan pemimoin, antara umat dengan Nabinya dan yang paling tinggi antara hamba dengan TUHANNYA.
CINTA KARENA ALLAH
Kalau berlaku antara lelaki dan perempuan yang tidak diikat oleh perkawinan , mereka tak akan memerlukan untuk berjumpa,berbicara atau melakukan apa saja yang bertebntangan dengan kemauan ALLAH.
CINTA mereka tidak akan tercela oleh nafsu birahi.Sebaliknya CINTA itu adalah tautan hati yang berlaku walaupun tak pernah berjumpa atau baru kenal tapi hati rasa sayang dan rindu.Hati sedih kalau orang yang kita cintai ditimpa susah,senangkalau yang dicintai itu senang.Sanggup susah dan korbankan diriuntuk senangkan orang yang dicintai.
CINTA yang begini diceritakan dalam hadist, yaitu seorang lelaki yang bertemu dan berpisah dengan sahabatnya karena ALLAH maka mereka akan mendapat perlindungan 'ARSY ALLAHdipadang mahsyar nanti,hari dimnan masing-masing orang mengharap sangat lindungan dari matahari yang sejengkal saja dari kepala.
Kalau bertlaku antara suami istri , maka istri akan meletakkan seluruh ketaatan pada suami,hormat dan melayani suami tanpa jemu.Baik ketika suami tunjukkan sayang atau ketika suami marah-marah.Baik ketika suami kaya atau miskin ,atau suami kawin lagi , CINTA istri pada suami tidaka akan terbagi.
Karena CINTANYA pada suami datang dari ALLAH hasil ketaqwaan istri.Biarpun datangtopan badai,melanda rumah tangga,istri tetap memberikan CINTAnya yang utuh dan teguh.
Begitu juga suami , CINTA pada istri tidak pandang itu istri tua atau muda.Terpatri pada hatinya.Selagi istri taat pada ALLAH,istri tetap dikasihinya.Kalau dia ada empat istri,tentulah istri-istri akan bertanya -tanya , istri yang manakah yang paling dicintai oleh suami?Kalau CINTA itu bersumber dari ALLAH , tentu istri yang paling bertaqwalah yang paling dicintai oleh suami lebih dari istri-istri yang lain.
CINTA ALLAH YANG UTAMA
Sumber CINTA yang datang dari ALLAH akan meletakkan ALLAHyang paling tinggi dan utama.Bila berlaku perseteruan antara CINTA ALLAH dengan CINTA pada makhluk maka CINTA ALLAH dimenangkan.
Misalkan seorang istri yang CINTA pada suaminya.Tiba-tiba suami melarang istri melakukan ketaatan pada ALLAH, dalam hal menutup aurat, padahal tutup aurat itu ALLAH wajibkan.Maka kecintaan pada ALLAH itu akan mendorong nya untuk tetap malaksanakan perintah-NYA walaupun suami tidak suka ataupun harus kehilangan suami.
Sanggup dilakukan sebagai pengorbanan CINTAnya pada ALLAH.Sebaliknya kalau dia turut kemauan suami artinya kata CINTA pada ALLAH hanya pura-pura,CINTAnya bukan lagi bersumber kan ALLAH tapi datang dari nafsu.
CINTA yang datang dari ALLAH menyebabakan seseorang cukup takut untuk melanggar perintah ALLAH yang kecil ,apalagi yang besar.Seseorang yang sudah dapat mencintai ALLAH ,CINTA ynag lain jadi kecil dan rendah baginya.
Sejarah menceritakan kisah CINTA Zulaikha terhadap Nabi Yusuf.Sewaktu Zulaikha dibelenggu oleh CINTA nafsu yang berkobar-kobar pada Nabi Yusuf , dia sanggup hendak menduakan suaminya ,yang seorang menteri.
Ketika Nabi Yusuf menolak keinginannya, ditariknya baju Nabi Yusuf hingga terkoyak.Akibat dari peristiwa itu ,Nabi Yusuf masuk penjara.Tinggalah Zulaikha memendam rindu CINTANYA kepada Yusuf.
Penderitaan CINTA yang ditanggungb oleh Zulaikha menyebabakandia berubah dari seorang perempuan yang cantik menjadi perempuan tua yang tidak cantik lagi.Matanya banyak menangis terkenangkan Yusuf,hartanya habis dibagi-bagikan karena Yusuf.Sehingga datanglah belas kasihan dari ALLAH terhadapnya.Lalu ALLAH mewahyukan agar Nabi Yusuf mengawini Zulaikha setelah ALLAH mengembalikan kesehatan dan kecantikannya.
Peliknya , ketika Zulaikha mengenal ALLAH,datanglah CINTAnya pada ALLAH sehingga waktunya lebih banyak di habiskan untuk bermunajat dengan ALLAH dalam ibadah dan dzikir.
Begitulah betapa CINTA yang dulunya datang dari nafsu dapat dipadamkan bila kenal dan CINTA pada ALLAH.CINTA ALLAH adalah CINTA taraf tinggi.Puncak CINTA ini ialah pertemuan yang indah dan penuh rindu di surga yang dipenuhi kenikmatan.
CINTA pada ALLAH akan lahir pada orang yang mengenal ALLAH.Karena CINTA lahir ada penyebanya.Kalau wanita CINTA pada lelaki karena kayanya,baiknya , tampan, dan sebagainya dan lelaki CINTA wanita jarena cantik,baik ,lemah lembut dan sebagainya maka bagi mereka yang berakal akan merasa lebih patut dicurahkan rasa CINTA pada ALLAH karena segala kenikmatan itu datangnya dari ALLAH.
Ibu bapak ,suami istri, sahabat, handai taulan dan siapa yang mengasihi dan mencintai kita , hakekatnya semuanya datang dari ALLAH.Kebaikan ,kemewhan dan kecintaan yang diberikan itupun atas rahmat dan belas kasih dari ALLAH pada kita.Sehingga ALLAH izinkan makhluk-NYA yang lain CINTA pada kita.
ALLAH yang menciptakan kita makhluk-NYA , kemudian diberinya kita berbagai nikmat seperti sehat,gembira dan lain-lain.Baik kita ingat pada-NYA ataupun waktu kita lalai , tetap diberi-NYA nikmat-nikmat itu.Begitulah , kebaikan ALLAH pada kita terlalu banyak sebagaimana firman-NYA, yang berarti:
"Kalau kamu hendak menghitung nikmat -nikmat ALLAH, niscaya tidak akan terhitung."
Besar sungguh jasa ALLAH dari menciptakan menghidupkan dan memberi rezeki, suami , istri, rumah dan macam-macamlagi yang dengannya kita melalui kehidupan dengan aman bahagia.
Alangkah biadabnya kita kalu segal pemberian ALLAH itu kita ambil , tapi lupa untuk bersyukur pada yamag Memberi.ALLAH bisa saja menyusahkan dan menyenangkan kita dengan Kehendak-NYA.
Oelh itu orang yang betul kenal dan beradab, dia malu pada ALLAH. malah karena malunya itu dia tidak nampak yang lain lebih hebat dari ALLAH.CINTAnya tertumpu pada ALLAH ,penyerahan diri pada ALLAH sungguh- sungguh.
Setiap saat menanggung rindu.lalu waktunya di habiskan untuk berbisik- bisik dengan kekasihnya.Bila CINTA ALLAH sudah penuh dalanm hatinya , maka tidak ada tempat lagi untuk CINTA selain dari itu.
Ada orang mengatakan :"JIKA KAU BERIKAN HATIMU ATAUPUN CINTAMU PADA MANUSIA NISCAYA CINTAMU NISCAYA DIA AKAN MEROBEK -ROBEKNYA.TAPI KALAU HATI YANG PECAH ITU DIBERIKAN PADA ALLAH NISCAYA AKAN DISATUKANNYA .ARTINYA CINTA DENGAN ALLAH PASTI TERBALAS. DAN ALLAH TIDAK MEMBIARKAN ORANG YANG DICINTAI-NYA MENDERITA DI AKHERAT."
Jadi seorang yang bijak dan beradap akan meletakkan kecintaan yang besar pada ALLAH, pada Rasulullah dan barulah pada makhluk -makhluk lain di samping-NYA.Itulah peletakan CINTA yang yang betul dan menguntungkan didunia dan di akherat. Itulah dia CINTA kita pada ALLAH SWT yang patut kita letakkan.
SEKALI RASA CINTA ITU HADIR..........
INGATLAH IA ADALAH KARUNIA ALLAH.............
HIDUP INI MENJADI INDAH KARENA CINTA............
CINTA YANG SUCI...............
BUKAN CINTA YANG MENYERET KE NERAKA.
SEKALI RASA CINTA ITU HADIR .....................
SAMBUTLAH DENGAN BENAR............
JAGA...................PELIHARA.....................
DAN JADIKAN IA CINTA YANG MENGHANTARKAN KE SURGA..................
{MUTIARA AMALY}.
Tampilkan postingan dengan label mahabbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahabbah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 22 April 2010
Senin, 26 Oktober 2009
Pasangan Jiwa
Andri telah beranjak dewasa. Sudah saatnya ia mencari gadis yang baik
untuk dijadikan istri. Tapi sampai saat ini, ia belum juga berhasil.
Bukan suatu hal yang aneh. Ia memang terlalu mempertimbangkan
bibit-bebet-bobot calon istrinya. Maka, saat Musim panas mulai
bertiup, Andri melakukan perjalanan ke Yogya. Di tengah perjalanan, Andri
memutuskan untuk beristirahat di sebuah Rumah penginapan yang berada
di Sekitar Malioboro. Kebetulan ia bertemu dengan teman sekolahnya dulu.
Maka Andri tak segan untuk menceritakan maksud perjalanannya itu.
Seperti gayung bersambut, temannya menyarankan Andri untuk mencoba
melamar anak gadis keluarga Surya. Menurut temannya itu, keluarga Surya
adalah keluarga yang status sosial ekonominya sederajat dengan Andri.
Lagipula, gadis itu sangat cantik dan terpelajar. Andri girang bukan
main.Sebelum berpisah, teman Andri berjanji untuk mempertemukannya
dengan'Pak Comblang' dari keluarga Surya , esok pagi. Pak Comblang
inilah yang akan meneruskan data pribadi Andri kepada gadis tersebut.
Bila keluarga itu berkenan menerimanya, maka Andri akan segera
berkenalan, sebelum lamaran resmi atau khitbah diajukan.
Kegembiraan yang meluap-luap memenuhi rongga dada Andri.
Dibentangkannya sajadah, lalu ia mulai sholat istikhoroh.
Baru kali ini Andri merasa melakukannya dengan sepenuh hati,
dengan kepasrahan yang murni ... Ah. Tak terasa air mata Andri berjatuhan.
Diam-diam menyelinap suatu penyesalan. Mengapa ia baru bisa khusyu' dan dapat merasakan ikatan yang erat dengan Allah, ketika ada masalah berat dan serius yang harus ia hadapi? Waktu subuh belum
lama berlalu, namun Andri telah bersiap untuk pergi menemui Pak
Comblang. Makin cepat makin baik, pikirnya. Di bawah sinar bulan sabit
yang kepucatan, Andri bergegas menuju tempat itu. Fajar belum juga
merekah ketika Andri sampai di tempat yang dijanjikan. Sepi sekali.
Nyanyian jangkrik perlahan menghilang. Andri benar-benar sendirian. Di
tengah kegamangan hatinya, Andri mencoba mengitari bangunan itu.
Seperti sebuah musholla kecil. Cahaya lilin yang memantul di sela-sela kaca
jendela, membangkitkan rasa ingin tahunya. Andri berjingkat ke arah
jendela. Ditempelkan matanya ke celah-celah ...
"Hei, masuklah!"
"Jangan mengintip seperti itu!"
Andri tersentak. Rasa malu, kaget dan takut berbaur menjadi satu.
"Ayo, masuklah. Jangan takut!"
Suaranya lebih lembut namun tetap berwibawa. Andri ragu-ragu. Tetapi
Rasa ingin tahu sedemikian menyerbunya. Akhirnya ia memberanikan diri
melangkah ke dalam.
"Kemarilah!" ajaknya tanpa melihat muka Andri. Andri memperhatikan
dengan penuh seksama. Laki-laki itu belum terlalu tua, tapi wajahnya
memancarkan kebaikan yang seolah-olah bersumber dari seluruh aliran
darahnya. Bijak, arif, lembut namun tegas. Tentulah ia pengemban
amanah yang luar biasa, pikir Andri. Laki-laki itu duduk di atas permadani
sambil membaca sebuah buku. Lalu ia berkata perlahan: "Belum saatnya
Andri .... Belum saatnya."Andri menatap wajahnya dengan penuh
kebingungan.
Lalu laki-laki itu kembali melanjutkan. Kali ini ditatapnya Andri
dengan ketajaman jiwa. "Kau tahu? Semenjak seseorang ada dalam kandungan
ibunya, Allah Ta'ala telah menetapkan 3 hal untuknya. Kau sudah tahu
bukan! Salah satu di antaranya adalah jodohnya.. pasangan hidupnya."
"Hmmmm..... seperti benang sutera." "Ya, seperti benang sutera yang
diikatkan di antara mereka berdua. Kepada kaki laki-laki atau bayi
perempuan yang lahir dan ditakdirkan berjodohan satu dengan yang
lainnya. Begitu simpul diikatkan, maka tak ada suatu hal pun yang
dapat memisahkan mereka." "Salah seorang diantara mereka mungkin saja
berasal dari keluarga yang miskin, sedang yang lainnya dari keluarga yang
kaya. Atau mereka terpisah bermil-mil jaraknya, bahkan mungkin ada yang
berasal dari dua keluarga yang saling bermusuhan. Tapi pada akhirnya,
bila saatnya telah tiba, mereka akan menjadi suami istri. Tak ada
suatu hal pun yang dapat mengubah takdir itu." Laki-laki itu terdiam sesaat.
Andri kini sudah sepenuhnya duduk terpekur di hadapannya. Kalimat demi
kalimat disimaknya dengan seksama.
"Jodoh adalah masalah yang paling ajaib dan paling gaib. Suatu rahasia
kehidupan yang tak akan pernah tuntas untuk dimengerti. Bayangkan. Dua
anak yang berbeda, tumbuh di lingkungannya masing-masing. Sebagian
besar mungkin tidak menyadari kehadiran satu dengan lainnya. Tapi bila
saatnya tiba, mereka akan bertemu dan mengekalkan ikatannya dalam tali
pernikahan. "Kalau ada wanita atau laki-laki lain yang muncul diantara
keduanya, ia akan terjatuh. la tak akan mampu melewati bentangan tali
sutera yang telah diikatkan pada mereka. Ah, kau pasti pernah melihat
orang yang patah hati bukan? Hhh, sebagian orang yang bodoh dan tak
kuat menahan cobaan, memilih mati daripada patah hati. Bukan takdir yang
memilihnya untuk bunuh diri. Itu pilihannya sendiri, ia cuma tak sabar
menanti saat pertemuan itu datang.
"Ketahuilah, Andri. Masalah jodoh adalah rahasia Allah.
Kau harus dapat berdamai dengan takdirmu. "Bagaimana dengan aku!" sela Andri.
"Apakah aku akan berhasil menikah dengan anak gadis dari keluarga Surya?
Apakah ia takdirku?"
tanyanya tak sabaran. Laki-laki itu tersenyum. "Belum saatnya Andri.
Belum saatnya. Suatu saat nanti, kau akan menikah dengan seorang gadis
shalihat, cantik dan pintar. Pun dari keluarga yang terhormat. Kelak,
setelah menikah, kalian akan mempunyai anak laki-laki. Dan anakmu akan
menjadi pedagang yang terpelajar. Ia dermakan kekayaannya untuk agama
Allah. la juga akan menjadi anak yang senantiasa memelihara kedua
orang tuanya. Meskipun kalian sudah tua renta nanti. Hal ini tak lepas dari
peranan ibunya dalam mendidik anak itu." "Tapi itu nanti. Bila calon
istrimu telah mencapai usia 17 tahun. Sayangnya, saat ini dia masih
berumur 7 tahun." "Hah!" Andri kebingungan. "Jadi saya harus membujang
selama 10 tahun ?!" Andri menatap tak percaya. Ia berharap semua hanya
kemungkinan karena ia salah dengar saja. Andri mencari kesungguhan di
sana. Tapi semua sia- sia. Air muka laki-laki itu tak berubah sedikit
pun. Dan Andri menyadari semua adalah kebenaran.
"Kalau begitu, di mana dia sekarang? Dimana saya dapat menemui calon
istri saya? Tolonglah?!" Andri memohon padanya. "Oh, gadis itu tinggal
dengan wanita penjual sayur. Tak jauh dari sini. Setiap pagi, wanita itu
datang ke pasar dan menjajakan sayurannya di sebelah kios ikan."
Kukuruyukkkkk... !!
Suara nyaring ayam jantan memecah keheningan. Andri tersentak.
Kukuruyukkkkk...! !
Kokok nyaring ayam jantan membangunkan Andri dari
tidurnya. Ah, rupa-rupanya ia tertidur di atas sajadah. Alhamdulillah,
waktu subuh belum habis. Andri bersegera mengambil wudhu. Sehabis
sholat subuh,Andri kembali teringat mimpinya. Seolah semua menjadi teka-teki.
Andri belum tahu apakah harus menganggapnya sebagai jawaban atas
sholat istikhorohnya atau tidak. Untuk menyingkap tabir mimpi itu, cuma ada
satu cara yang bisa dilakukannya: mencari gadis kecil yang katanya
calon istrinya itu!
Lalu Andri pun bergegas ke pasar terdekat. Sepanjang jalan ia berdoa
dan berjanji. Berdoa agar calon istrinya memang benar-benar baik bibit,
bebet dan bobotnya. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam mimpi. Dan
berjanji untuk menerima takdirnya dan berusaha menjadi muslim yang
baik. Lebih baik dari kualitasnya sekarang. Fajar telah lama merekah saat
Andri tiba di sana. Orang-orang mulai melakukan kegiatannya. Pembeli
mulai berdatangan. Ramai. Namun belum seramai satu jam yang akan
datang. Maka Andri lebih leluasa untuk mengamati sekitarnya. Matanya
berkeliling mengitari pasar, lalu tertumbuk pada sosok kecil di samping kios ikan. Wanita itu tua, kotor, lusuh. Kumal. Rambutnya telah keabu-abuan.
Dengan sebelah mata tertutup lapisan katarak, ia duduk di selembar alas
sambil menggendong bocah kecil di dadanya. "Oh, tidak!! Bagaimana mungkin?!
Ini pasti kekeliruan!"Andri menatap kembali bocah terlantar yang kurus
kering itu. Hatinya hancur. Ah, mimpi semalam benar-benar hanya bunga
tidur. Andri kembali ke penginapannya dengan hati lesu. Kali ini bukan
saja ia kecewa karena calon istrinya ternyata hanya seorang bocah
gelandangan, tapi juga karena 'Pak Comblang' dari keluarga Surya tidak
datang pada pertemuan yang ia janjikan. Tanpa suatu penjelasan apapun.
Ah, sudah jatuh dari tangga, tertimpa genteng pula!
Saya adalah seorang yang terpelajar. Sudah selayaknya saya mendapatkan
seorang gadis dari keluarga terhormat. Semakin lama Andri memikirkan
hal tersebut, semakin jijik ia membayangkan kemungkinan menikahi bocah
kumal itu. Benar-benar menggelikan. Andri khawatir hal tersebut benar-benar
akan terjadi. Dan ia tidak dapat tidur semalaman.
Keesokan harinya. Andri pergi ke pasar bersama dengan pelayan
setianya. Andri menjanjikan imbalan yang sangat besar apabila ia berhasil
membunuh bocah kumal itu. Andri dan pelayannya berdiri di belakang pembeli.
Begitu kesempatan datang, pelayan Andri menikamkan pisaunya ke arah si
anak, lalu mereka kabur. Bocah kecil itu menangis dan wanita buta yang
menggendongnya berteriak-teriak: "Pembunuh! Pembunuh!" Kegemparan
segera menyebar ke seluruh penjuru pasar. Sementara itu, Andri dan pelayannya
telah lenyap dari tempat kejadian. "Kau berhasil membunuh dia?" tanya
Andri terengah-engah. "Tidak," jawab pelayannya. "Begitu saya
menghunjamkan pisau ke arahnya, anak itu berbalik secara tiba-tiba.
Saya rasa saya hanya melukai mukanya. Dekat alisnya." Andri segera
meninggalkan penginapan. Kejadian itu dengan segera terlupakan oleh
masyarakat sekitar. Ia kemudian pergi ke arah Barat menuju ibukota.
Karena kecewa dengan kegagalan pernikahannya, Andri memutuskan untuk
berhenti memikirkan perkawinan.
Tiga tahun kemudian Andri dijodohkan dengan gadis yang mempunyai reputasi baik yang berasal dari keluarga Hartono. Sebuah keluarga yang cukup terkenal di masyarakat sekitar. Anak gadisnya terpelajar dan sangat cantik. Semua orang memberi selamat pada Andri. Persiapan pernikahan tengah dilangsungkan, ketika suatu pagi Andri menerima berita yang menyakitkan. Calon istrinya melarikan diri
dengan laki-laki yang dicintainya. Mereka berdua telah menikah di kota
lain. Selama dua tahun Andri berhenti memikirkan pernikahan. Saat itu
ia berusia dua puluh delapan tahun. Ia berubah pikiran tentang mencari
pasangan dari masyarakat yang sekelas dengannya; seorang gadis kota
terpelajar. Maka Andri pergi ke pedesaan, mencari suasana baru. Di
desa, Andri menghabiskan waktu dengan mempelajari buku-buku. Suatu
hari ia membawa bukunya ke sungai di dekat ladang, agar lebih nyaman
membacanya. Tanpa sengaja ia melihat gadis desa yang sedang memanen
kentang. Andri jatuh hati padanya dan bersegera menemui orang tua
gadis itu. Gayung bersambut, gadis itu menerima lamarannya. Maka Andri
bergegas ke kota untuk membeli perhiasan dan baju sutera serta segala
persiapan pernikahan. Selama beberapa hari, Andri berkeliling
mengunjungi saudara-saudaranya untuk mengabarkan berita gembira itu.
Seminggu kemudian ia kembali ke desa. Tapi yang ditemuinya hanya kabar
buruk tentang sakitnya sang calon. Andri bersedia menunggu sampai ia
sembuh. Sampai setahun hampir berlalu, penyakit calon istrinya malah
semakin parah. Gadis itu kehilangan seluruh rambutnya dan menjadi
buta.Ia menolak menikahi Andri dan berpesan pada orang tuanya untuk meminta
Andri melupakan dia. Ia mohon agar Andri mencari gadis lain yang layak
untuk dijadikan istri.
Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya Andri
mendapatkan calon yang sempurna. Bukan saja ia cantik dan masih muda,
tapi juga pencinta buku dan seni. Tak ada rintangan, khitbah pun
segera dilangsungkan. Tiga hari sebelum pernikahan, gadis itu terjatuh dari
tangga dan mati. Sepertinya nasib mengolok-olokkan Andri. Andri Ku
menjadi fatalis. Ia tidak lagi peduli pada wanita, ia hanya bekerja
dan bekerja. Sekarang ia bekerja di kantor pemerintahan di Yogya.
Mengabdikan diri pada tugas dan sama sekali berhenti memikirkan
pernikahan. Tapi ia bekerja dengan sangat baik, sehingga atasannya,
Hakim Sulaiman, terkesan pada dedikasi dan kesungguhannya. Lalu
mengusulkan Andri untuk menikahi keponakannya. Pembicaraan itu sangat
menyakitkan Andri. "Mengapa Tuan mau menikahkan keponakan Tuan pada
saya! Saya terlalu tua untuk menikah." Pejabat itu menasehati Andri
tentang keburukan membujang. Lagipula menikah adalah sunnah
Rasulullah. Maka Andri menyetujuinya, meskipun ia sama sekali tidak antusias.
Andri benar-benar tidak melihat istrinya sampai pernikahan benar-benar
selesai dilangsungkan.
Istrinya ternyata masih muda, Andri lega melihatnya.
Tingkah lakunya sangat baik dan Andri harus mengakui bahwa ia adalah
istri yang sangat baik. Taat, sholihat dan selalu menyenangkan. Sama
sekali tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Bila di rumah,
istrinya selalu menata rambut dengan cara yang khas, sehingga menutupi pelipis
kanannya. Menurut Andri, dengan tata rambut seperti itu istrinya
kelihatan sangat cantik, tetapi ia agak heran. Tak kurang dari satu
bulan, Andri telah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Suatu saat ia
bertanya, "Mengapa dinda tidak mengganti gaya rambut sekali-kali?
Maksudku, mengapa dinda selalu menyisirnya ke satu arah?" Istri Andri
menyibakkan rambutnya dan berkata, "Lihatlah!" Ia menunjuk ke luka di
pelipis kanannya. "Bagaimana bisa begitu?" "Aku mendapatkannya saat
berumur tujuh tahun. Ayahku meninggal di kantornya, sedangkan ibu dan
abangku meninggal dunia pada tahun yang sama. Kemudian aku dirawat
oleh ibu susuku. Kami mempunyai rumah di dekat Gerbang Selatan Yogya, dekat
kantor ayahku. Suatu hari, seorang pencuri tanpa alasan apa pun,
mencoba membunuhku. Kami sama sekali tidak mengerti, kami tidak pernah punya
musuh. Ia tidak berhasil, tapi ia meninggalkan luka di kepala sebelah
kananku. Karena itulah aku selalu menutupinya darimu." "Apakah ibu
susumu hampir buta?" "Ya. Kok tahu?" "Akulah pencuri itu. Ah, tapi
bagaimana mungkin! Semua begitu aneh. Semua terjadi, seperti ada yang
telah mentakdirkan."Andri kemudian menceritakan semuanya. Bermula
dari mimpinya setelah ia sholat istikhoroh, sekitar sepuluh tahun yang
lalu. Istrinya juga bercerita, ketika ia berusia sembilan atau sepuluh
tahun, pamannya menemukan ia di Sung-Cheng dan mengambilnya untuk tinggal
bersama keluarganya di Shiang-Chow.
Akhirnya mereka menyadari bahwa pernikahan mereka adalah sebuah takdir yang telah digariskan Allah Ta'ala. Andri menangis. Ia malu pada Penciptanya. Malu pada kesombongannya untuk menentang takdir. Ah ... pada saat itulah, Andri
menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Tapi kenapa ketika ia
mendapatkan petunjuk, ia malah mengingkarinya ? Saat itu juga, Andri
melakukan sholat taubat. Untuk menjadi mukmin yang baik. Begitulah,
kasih sayang di antara mereka kian tumbuh subur. Setahun kemudian
lahirlah anak laki-laki. Istri Andri mendidiknya dengan sangat baik.
Setelah dewasa, ia menjadi seorang yang terpelajar. Usahanya di bidang
perdagangan maju pesat. Ia sangat penyantun dan terkenal
kedermawanannya. Ketika sang anak menjadi gubernur, Andri telah lanjut
usia. Anak dan istrinya tetap setia memelihara dan mencintainya. Di
tempat mereka pertama kali bertemu, empat belas tahun sebelum
pernikahan, anak Andri membangun tempat peristirahatan untuknya.
"Dan segala sesuatu kami jadikan berjodoh-jodohan, agar sekalian kamu
berpikir." (QS 51 : 49).
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan
sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. 30:21)
untuk dijadikan istri. Tapi sampai saat ini, ia belum juga berhasil.
Bukan suatu hal yang aneh. Ia memang terlalu mempertimbangkan
bibit-bebet-bobot calon istrinya. Maka, saat Musim panas mulai
bertiup, Andri melakukan perjalanan ke Yogya. Di tengah perjalanan, Andri
memutuskan untuk beristirahat di sebuah Rumah penginapan yang berada
di Sekitar Malioboro. Kebetulan ia bertemu dengan teman sekolahnya dulu.
Maka Andri tak segan untuk menceritakan maksud perjalanannya itu.
Seperti gayung bersambut, temannya menyarankan Andri untuk mencoba
melamar anak gadis keluarga Surya. Menurut temannya itu, keluarga Surya
adalah keluarga yang status sosial ekonominya sederajat dengan Andri.
Lagipula, gadis itu sangat cantik dan terpelajar. Andri girang bukan
main.Sebelum berpisah, teman Andri berjanji untuk mempertemukannya
dengan'Pak Comblang' dari keluarga Surya , esok pagi. Pak Comblang
inilah yang akan meneruskan data pribadi Andri kepada gadis tersebut.
Bila keluarga itu berkenan menerimanya, maka Andri akan segera
berkenalan, sebelum lamaran resmi atau khitbah diajukan.
Kegembiraan yang meluap-luap memenuhi rongga dada Andri.
Dibentangkannya sajadah, lalu ia mulai sholat istikhoroh.
Baru kali ini Andri merasa melakukannya dengan sepenuh hati,
dengan kepasrahan yang murni ... Ah. Tak terasa air mata Andri berjatuhan.
Diam-diam menyelinap suatu penyesalan. Mengapa ia baru bisa khusyu' dan dapat merasakan ikatan yang erat dengan Allah, ketika ada masalah berat dan serius yang harus ia hadapi? Waktu subuh belum
lama berlalu, namun Andri telah bersiap untuk pergi menemui Pak
Comblang. Makin cepat makin baik, pikirnya. Di bawah sinar bulan sabit
yang kepucatan, Andri bergegas menuju tempat itu. Fajar belum juga
merekah ketika Andri sampai di tempat yang dijanjikan. Sepi sekali.
Nyanyian jangkrik perlahan menghilang. Andri benar-benar sendirian. Di
tengah kegamangan hatinya, Andri mencoba mengitari bangunan itu.
Seperti sebuah musholla kecil. Cahaya lilin yang memantul di sela-sela kaca
jendela, membangkitkan rasa ingin tahunya. Andri berjingkat ke arah
jendela. Ditempelkan matanya ke celah-celah ...
"Hei, masuklah!"
"Jangan mengintip seperti itu!"
Andri tersentak. Rasa malu, kaget dan takut berbaur menjadi satu.
"Ayo, masuklah. Jangan takut!"
Suaranya lebih lembut namun tetap berwibawa. Andri ragu-ragu. Tetapi
Rasa ingin tahu sedemikian menyerbunya. Akhirnya ia memberanikan diri
melangkah ke dalam.
"Kemarilah!" ajaknya tanpa melihat muka Andri. Andri memperhatikan
dengan penuh seksama. Laki-laki itu belum terlalu tua, tapi wajahnya
memancarkan kebaikan yang seolah-olah bersumber dari seluruh aliran
darahnya. Bijak, arif, lembut namun tegas. Tentulah ia pengemban
amanah yang luar biasa, pikir Andri. Laki-laki itu duduk di atas permadani
sambil membaca sebuah buku. Lalu ia berkata perlahan: "Belum saatnya
Andri .... Belum saatnya."Andri menatap wajahnya dengan penuh
kebingungan.
Lalu laki-laki itu kembali melanjutkan. Kali ini ditatapnya Andri
dengan ketajaman jiwa. "Kau tahu? Semenjak seseorang ada dalam kandungan
ibunya, Allah Ta'ala telah menetapkan 3 hal untuknya. Kau sudah tahu
bukan! Salah satu di antaranya adalah jodohnya.. pasangan hidupnya."
"Hmmmm..... seperti benang sutera." "Ya, seperti benang sutera yang
diikatkan di antara mereka berdua. Kepada kaki laki-laki atau bayi
perempuan yang lahir dan ditakdirkan berjodohan satu dengan yang
lainnya. Begitu simpul diikatkan, maka tak ada suatu hal pun yang
dapat memisahkan mereka." "Salah seorang diantara mereka mungkin saja
berasal dari keluarga yang miskin, sedang yang lainnya dari keluarga yang
kaya. Atau mereka terpisah bermil-mil jaraknya, bahkan mungkin ada yang
berasal dari dua keluarga yang saling bermusuhan. Tapi pada akhirnya,
bila saatnya telah tiba, mereka akan menjadi suami istri. Tak ada
suatu hal pun yang dapat mengubah takdir itu." Laki-laki itu terdiam sesaat.
Andri kini sudah sepenuhnya duduk terpekur di hadapannya. Kalimat demi
kalimat disimaknya dengan seksama.
"Jodoh adalah masalah yang paling ajaib dan paling gaib. Suatu rahasia
kehidupan yang tak akan pernah tuntas untuk dimengerti. Bayangkan. Dua
anak yang berbeda, tumbuh di lingkungannya masing-masing. Sebagian
besar mungkin tidak menyadari kehadiran satu dengan lainnya. Tapi bila
saatnya tiba, mereka akan bertemu dan mengekalkan ikatannya dalam tali
pernikahan. "Kalau ada wanita atau laki-laki lain yang muncul diantara
keduanya, ia akan terjatuh. la tak akan mampu melewati bentangan tali
sutera yang telah diikatkan pada mereka. Ah, kau pasti pernah melihat
orang yang patah hati bukan? Hhh, sebagian orang yang bodoh dan tak
kuat menahan cobaan, memilih mati daripada patah hati. Bukan takdir yang
memilihnya untuk bunuh diri. Itu pilihannya sendiri, ia cuma tak sabar
menanti saat pertemuan itu datang.
"Ketahuilah, Andri. Masalah jodoh adalah rahasia Allah.
Kau harus dapat berdamai dengan takdirmu. "Bagaimana dengan aku!" sela Andri.
"Apakah aku akan berhasil menikah dengan anak gadis dari keluarga Surya?
Apakah ia takdirku?"
tanyanya tak sabaran. Laki-laki itu tersenyum. "Belum saatnya Andri.
Belum saatnya. Suatu saat nanti, kau akan menikah dengan seorang gadis
shalihat, cantik dan pintar. Pun dari keluarga yang terhormat. Kelak,
setelah menikah, kalian akan mempunyai anak laki-laki. Dan anakmu akan
menjadi pedagang yang terpelajar. Ia dermakan kekayaannya untuk agama
Allah. la juga akan menjadi anak yang senantiasa memelihara kedua
orang tuanya. Meskipun kalian sudah tua renta nanti. Hal ini tak lepas dari
peranan ibunya dalam mendidik anak itu." "Tapi itu nanti. Bila calon
istrimu telah mencapai usia 17 tahun. Sayangnya, saat ini dia masih
berumur 7 tahun." "Hah!" Andri kebingungan. "Jadi saya harus membujang
selama 10 tahun ?!" Andri menatap tak percaya. Ia berharap semua hanya
kemungkinan karena ia salah dengar saja. Andri mencari kesungguhan di
sana. Tapi semua sia- sia. Air muka laki-laki itu tak berubah sedikit
pun. Dan Andri menyadari semua adalah kebenaran.
"Kalau begitu, di mana dia sekarang? Dimana saya dapat menemui calon
istri saya? Tolonglah?!" Andri memohon padanya. "Oh, gadis itu tinggal
dengan wanita penjual sayur. Tak jauh dari sini. Setiap pagi, wanita itu
datang ke pasar dan menjajakan sayurannya di sebelah kios ikan."
Kukuruyukkkkk... !!
Suara nyaring ayam jantan memecah keheningan. Andri tersentak.
Kukuruyukkkkk...! !
Kokok nyaring ayam jantan membangunkan Andri dari
tidurnya. Ah, rupa-rupanya ia tertidur di atas sajadah. Alhamdulillah,
waktu subuh belum habis. Andri bersegera mengambil wudhu. Sehabis
sholat subuh,Andri kembali teringat mimpinya. Seolah semua menjadi teka-teki.
Andri belum tahu apakah harus menganggapnya sebagai jawaban atas
sholat istikhorohnya atau tidak. Untuk menyingkap tabir mimpi itu, cuma ada
satu cara yang bisa dilakukannya: mencari gadis kecil yang katanya
calon istrinya itu!
Lalu Andri pun bergegas ke pasar terdekat. Sepanjang jalan ia berdoa
dan berjanji. Berdoa agar calon istrinya memang benar-benar baik bibit,
bebet dan bobotnya. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam mimpi. Dan
berjanji untuk menerima takdirnya dan berusaha menjadi muslim yang
baik. Lebih baik dari kualitasnya sekarang. Fajar telah lama merekah saat
Andri tiba di sana. Orang-orang mulai melakukan kegiatannya. Pembeli
mulai berdatangan. Ramai. Namun belum seramai satu jam yang akan
datang. Maka Andri lebih leluasa untuk mengamati sekitarnya. Matanya
berkeliling mengitari pasar, lalu tertumbuk pada sosok kecil di samping kios ikan. Wanita itu tua, kotor, lusuh. Kumal. Rambutnya telah keabu-abuan.
Dengan sebelah mata tertutup lapisan katarak, ia duduk di selembar alas
sambil menggendong bocah kecil di dadanya. "Oh, tidak!! Bagaimana mungkin?!
Ini pasti kekeliruan!"Andri menatap kembali bocah terlantar yang kurus
kering itu. Hatinya hancur. Ah, mimpi semalam benar-benar hanya bunga
tidur. Andri kembali ke penginapannya dengan hati lesu. Kali ini bukan
saja ia kecewa karena calon istrinya ternyata hanya seorang bocah
gelandangan, tapi juga karena 'Pak Comblang' dari keluarga Surya tidak
datang pada pertemuan yang ia janjikan. Tanpa suatu penjelasan apapun.
Ah, sudah jatuh dari tangga, tertimpa genteng pula!
Saya adalah seorang yang terpelajar. Sudah selayaknya saya mendapatkan
seorang gadis dari keluarga terhormat. Semakin lama Andri memikirkan
hal tersebut, semakin jijik ia membayangkan kemungkinan menikahi bocah
kumal itu. Benar-benar menggelikan. Andri khawatir hal tersebut benar-benar
akan terjadi. Dan ia tidak dapat tidur semalaman.
Keesokan harinya. Andri pergi ke pasar bersama dengan pelayan
setianya. Andri menjanjikan imbalan yang sangat besar apabila ia berhasil
membunuh bocah kumal itu. Andri dan pelayannya berdiri di belakang pembeli.
Begitu kesempatan datang, pelayan Andri menikamkan pisaunya ke arah si
anak, lalu mereka kabur. Bocah kecil itu menangis dan wanita buta yang
menggendongnya berteriak-teriak: "Pembunuh! Pembunuh!" Kegemparan
segera menyebar ke seluruh penjuru pasar. Sementara itu, Andri dan pelayannya
telah lenyap dari tempat kejadian. "Kau berhasil membunuh dia?" tanya
Andri terengah-engah. "Tidak," jawab pelayannya. "Begitu saya
menghunjamkan pisau ke arahnya, anak itu berbalik secara tiba-tiba.
Saya rasa saya hanya melukai mukanya. Dekat alisnya." Andri segera
meninggalkan penginapan. Kejadian itu dengan segera terlupakan oleh
masyarakat sekitar. Ia kemudian pergi ke arah Barat menuju ibukota.
Karena kecewa dengan kegagalan pernikahannya, Andri memutuskan untuk
berhenti memikirkan perkawinan.
Tiga tahun kemudian Andri dijodohkan dengan gadis yang mempunyai reputasi baik yang berasal dari keluarga Hartono. Sebuah keluarga yang cukup terkenal di masyarakat sekitar. Anak gadisnya terpelajar dan sangat cantik. Semua orang memberi selamat pada Andri. Persiapan pernikahan tengah dilangsungkan, ketika suatu pagi Andri menerima berita yang menyakitkan. Calon istrinya melarikan diri
dengan laki-laki yang dicintainya. Mereka berdua telah menikah di kota
lain. Selama dua tahun Andri berhenti memikirkan pernikahan. Saat itu
ia berusia dua puluh delapan tahun. Ia berubah pikiran tentang mencari
pasangan dari masyarakat yang sekelas dengannya; seorang gadis kota
terpelajar. Maka Andri pergi ke pedesaan, mencari suasana baru. Di
desa, Andri menghabiskan waktu dengan mempelajari buku-buku. Suatu
hari ia membawa bukunya ke sungai di dekat ladang, agar lebih nyaman
membacanya. Tanpa sengaja ia melihat gadis desa yang sedang memanen
kentang. Andri jatuh hati padanya dan bersegera menemui orang tua
gadis itu. Gayung bersambut, gadis itu menerima lamarannya. Maka Andri
bergegas ke kota untuk membeli perhiasan dan baju sutera serta segala
persiapan pernikahan. Selama beberapa hari, Andri berkeliling
mengunjungi saudara-saudaranya untuk mengabarkan berita gembira itu.
Seminggu kemudian ia kembali ke desa. Tapi yang ditemuinya hanya kabar
buruk tentang sakitnya sang calon. Andri bersedia menunggu sampai ia
sembuh. Sampai setahun hampir berlalu, penyakit calon istrinya malah
semakin parah. Gadis itu kehilangan seluruh rambutnya dan menjadi
buta.Ia menolak menikahi Andri dan berpesan pada orang tuanya untuk meminta
Andri melupakan dia. Ia mohon agar Andri mencari gadis lain yang layak
untuk dijadikan istri.
Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya Andri
mendapatkan calon yang sempurna. Bukan saja ia cantik dan masih muda,
tapi juga pencinta buku dan seni. Tak ada rintangan, khitbah pun
segera dilangsungkan. Tiga hari sebelum pernikahan, gadis itu terjatuh dari
tangga dan mati. Sepertinya nasib mengolok-olokkan Andri. Andri Ku
menjadi fatalis. Ia tidak lagi peduli pada wanita, ia hanya bekerja
dan bekerja. Sekarang ia bekerja di kantor pemerintahan di Yogya.
Mengabdikan diri pada tugas dan sama sekali berhenti memikirkan
pernikahan. Tapi ia bekerja dengan sangat baik, sehingga atasannya,
Hakim Sulaiman, terkesan pada dedikasi dan kesungguhannya. Lalu
mengusulkan Andri untuk menikahi keponakannya. Pembicaraan itu sangat
menyakitkan Andri. "Mengapa Tuan mau menikahkan keponakan Tuan pada
saya! Saya terlalu tua untuk menikah." Pejabat itu menasehati Andri
tentang keburukan membujang. Lagipula menikah adalah sunnah
Rasulullah. Maka Andri menyetujuinya, meskipun ia sama sekali tidak antusias.
Andri benar-benar tidak melihat istrinya sampai pernikahan benar-benar
selesai dilangsungkan.
Istrinya ternyata masih muda, Andri lega melihatnya.
Tingkah lakunya sangat baik dan Andri harus mengakui bahwa ia adalah
istri yang sangat baik. Taat, sholihat dan selalu menyenangkan. Sama
sekali tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Bila di rumah,
istrinya selalu menata rambut dengan cara yang khas, sehingga menutupi pelipis
kanannya. Menurut Andri, dengan tata rambut seperti itu istrinya
kelihatan sangat cantik, tetapi ia agak heran. Tak kurang dari satu
bulan, Andri telah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Suatu saat ia
bertanya, "Mengapa dinda tidak mengganti gaya rambut sekali-kali?
Maksudku, mengapa dinda selalu menyisirnya ke satu arah?" Istri Andri
menyibakkan rambutnya dan berkata, "Lihatlah!" Ia menunjuk ke luka di
pelipis kanannya. "Bagaimana bisa begitu?" "Aku mendapatkannya saat
berumur tujuh tahun. Ayahku meninggal di kantornya, sedangkan ibu dan
abangku meninggal dunia pada tahun yang sama. Kemudian aku dirawat
oleh ibu susuku. Kami mempunyai rumah di dekat Gerbang Selatan Yogya, dekat
kantor ayahku. Suatu hari, seorang pencuri tanpa alasan apa pun,
mencoba membunuhku. Kami sama sekali tidak mengerti, kami tidak pernah punya
musuh. Ia tidak berhasil, tapi ia meninggalkan luka di kepala sebelah
kananku. Karena itulah aku selalu menutupinya darimu." "Apakah ibu
susumu hampir buta?" "Ya. Kok tahu?" "Akulah pencuri itu. Ah, tapi
bagaimana mungkin! Semua begitu aneh. Semua terjadi, seperti ada yang
telah mentakdirkan."Andri kemudian menceritakan semuanya. Bermula
dari mimpinya setelah ia sholat istikhoroh, sekitar sepuluh tahun yang
lalu. Istrinya juga bercerita, ketika ia berusia sembilan atau sepuluh
tahun, pamannya menemukan ia di Sung-Cheng dan mengambilnya untuk tinggal
bersama keluarganya di Shiang-Chow.
Akhirnya mereka menyadari bahwa pernikahan mereka adalah sebuah takdir yang telah digariskan Allah Ta'ala. Andri menangis. Ia malu pada Penciptanya. Malu pada kesombongannya untuk menentang takdir. Ah ... pada saat itulah, Andri
menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Tapi kenapa ketika ia
mendapatkan petunjuk, ia malah mengingkarinya ? Saat itu juga, Andri
melakukan sholat taubat. Untuk menjadi mukmin yang baik. Begitulah,
kasih sayang di antara mereka kian tumbuh subur. Setahun kemudian
lahirlah anak laki-laki. Istri Andri mendidiknya dengan sangat baik.
Setelah dewasa, ia menjadi seorang yang terpelajar. Usahanya di bidang
perdagangan maju pesat. Ia sangat penyantun dan terkenal
kedermawanannya. Ketika sang anak menjadi gubernur, Andri telah lanjut
usia. Anak dan istrinya tetap setia memelihara dan mencintainya. Di
tempat mereka pertama kali bertemu, empat belas tahun sebelum
pernikahan, anak Andri membangun tempat peristirahatan untuknya.
"Dan segala sesuatu kami jadikan berjodoh-jodohan, agar sekalian kamu
berpikir." (QS 51 : 49).
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan
sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. 30:21)
category
mahabbah
Kamis, 15 Oktober 2009
cinta totalitas
Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
* * *
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
* * *
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.
category
mahabbah
Langganan:
Postingan
(
Atom
)