Minggu, 25 Juli 2010

Adab Malam Pertama (Zafaf)

Oleh Fir'adi Abu Ja'far, Lc

Khalid bin Walid pernah bertutur, "Ada dua hal yang paling aku sukai dalam hidupku: mengayunkan pedang di medan perang dan menghabiskan malam pengantin bersama istriku."

Ingatkah anda saat-saat melewati malam pengantin (zafaf) dahulu? Sesudah akad nikah terlaksana dan disaksikan oleh karib kerabat, keluarga dekat, para tamu dan undangan, maka kita telah memasuki saat yang paling peka. Hari itu seorang remaja yang melepas keperjakaannya menjadi seorang suami. Seorang gadis telah menutup masa lajangnya dan membuka lembaran hidup baru dengan corak dan mode yang serba baru. Iapun menjadi seorang istri pendamping sang suami. Teman setia dalam pelayaran hidup di dunia ini. Perasaan keduanya sangat sensitif ketika pertama kali bertemu dan berdekatan. Ada salah tingkah, tapi ada perasaan ingin selalu merapat. Hati berbunga-bunga, namun rasa gugup juga tak terkira. Ada rasa getar tapi penasaran juga tak terbendung.

Ada keindahan-keindahan yang mengalir deras dari salah tingkah di malam itu. Salah satunya adalah pasangan suami-istri (pasutri) saling menerima dan tidak saling menuntut ketika pertama kali biduk rumah tangga berlayar di malam zafaf. Yang terpikirkan saat itu adalah bagaimana seorang suami dapat memberikan bunga hati kepada istrinya. Juga sebaliknya seorang istri berpikir maksimal untuk memberikan pelayanan yang paripurna kepada pasangannya. Maka salah tingkah tak perlu ditakuti oleh pasangan baru, tetapi semestinya ia disyukuri hingga sampai ke dasar hati.

Adapun rambu-rambu pelayaran jangan diabaikan. Ingat, kekecewaan dan kegagalan di malam itu, menjadi lampu kuning bagi kehidupan selanjutnya. Dan bahkan bisa menjadi prahara dan bencana dahsyat dalam rumah tangga, yang lebih dahsyat dari gempa bumi biasa. Menikmati pelayaran dengan sentuhan perasaan yang dalam sangat membantu keduanya untuk bergandengan tangan, berjalan seiring menuju keluarga yang penuh berkah. Keindahan malam itu menjadi jalan untuk saling menerima, saling memberi dan saling mempercayai yang dibingkai kerinduan-kerinduan halus yang menggema, memenuhi lorong-lorong hati. Adapun salah tingkah dan canggung menjadi warna tersendiri dan bahkan menambah indahnya suasana. Begitulah cara Allah SWT menaburkan rahmat-Nya bagi hamba-hamba-Nya.

Malam pengantin sangat membekas di sanubari. Ia menjadi memori paling berkesan dan memberikan makna yang paling dalam menembus lorong-lorong hati. Ternyata hal inilah yang menjadi rahasia berbinarnya kedua mata Khalid bin Walid RA saat mengenang keindahan malam pengantin, menjelang detik-detik terakhir kepulangannya menghadap Sang Pemberi Cinta. Ia masih sempat menyuarakan gemericik hatinya, "Tiada kenangan yang lebih indah dalam hidupku, dari pada malam pengantin yang amat mendebarkan hati bersama bidadariku tercinta, terlebih suasana bertambah syahdu, ketika Allah SWT mengguyur bumi ini dengan tetesan-tetesan air hujan perlambang turunnya rahmat dan kasih sayang-Nya."

Ada waktu-waktu untuk menikmati keindahan. Ada saat-saat untuk menghayati kebesaran Sang Maha pencipta, yang sangat luas kasih sayang-Nya kepada kita. Alangkah semerbaknya, bila malam pengantin ini diawali dengan shalat sunnah bersama dua raka'at. Memulai kehidupan sebagai pasutri dengan menyebut Asma-Nya dan bersimpuh pasrah di hadapan-Nya. Karena Dia-lah yang telah mengaruniakan kepada kita teman sejati, penyayang, pelindung, pengasih, dan pemberi ketentraman dan kedamaian. Dengan shalat dua raka'at, mudah-mudahan keburukan akan menjauh, berganti dengan rahmat Allah SWT. Shalat dua raka'at ini merupakan warisan generasi para sahabat kepada kita yang sepatutnya kita teladani. Karena menapak tilasi kehidupan orang-orang shalih, akan menetaskan kebahagiaan dan keberuntungan dalam hidup.

Setelah melaksanakan shalat dua raka'at bersama, maka suami memegang ubun-ubun istrinya seraya berdo'a, "Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kecantikan dan keelokan perangainya, dan aku mohon perlindungan-Mu dari kejelekan dan keburukan perangainya." Hendaknya suami bersikap lemah lembut dan mengajak istrinya berbicara dari hati ke hati dengan tutur kata yang halus, lemah lembut dan menyenangkan. Karena yang demikian itu akan mencairkan segala kebekuan dan kekakuan. Walaupun wajah masih gugup dan tangan masih bergetar hebat, namun rasa cinta dan kedamaian berada di dekat suami mulai mengalir di hati, mulai terasa denyutnya di dada. Segelas susu dan beberapa butir kurma di awal pertemuan dapat mencairkan suasana dan menghadirkan keasyikan. Ada kemesraan dan kelembutan yang tumbuh. Ada jalinan perasaan yang mulai terajut. Ada sikap kikuk yang mencair perlahan-lahan seiring dengan susu yang diminum berdua dari gelas yang sama.

Janganlah tergesa-gesa. Ajaklah istri anda bercanda dan bergurau terlebih dahulu sebelum anda mengajaknya berlayar di samudera cinta, agar cintanya kepada anda mengembang dan perasaannya terbangkitkan. Ia bisa lebih terbuka dan tidak terhalang oleh gumpalan awan rasa malunya. Setelah mendaki ke puncak kenikmatan dan urat-uratpun telah melemah, tunggulah istri anda menemukan dirinya setelah beberapa saat melayang-layang di awan jingga. Jangan tinggalkan dirinya, ingatlah masih ada usapan pelan yang mesra dan kecupan lembut di kening, masih ada yang diharapkannya.

Setelah itu dekatkan telinga hati anda dalam pelukannya. Dengarkanlah suara hatinya. Rabalah perasaannya, kebahagiaannya, harapan-harapannya. Dan mungkin juga sedikit kekhawatirannya sekaligus keinginannya untuk mendapatkan suami yang memberikan perlindungan, rasa aman, ketentraman, ikatan bathin dan penerimaan. Masih ada kehangatan yang tersisa menuju peraduan malam yang indah. Kerlingan mata dan pembicaraan singkat dan sederhana bisa mengantarkan pasutri ke peraduan sebelum menutup malam zafaf dengan do'a dan memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT. Setelah melantunkan do'a, terkatuplah mata perlahan-lahan. Sedangkan tangan pasutri masih saling menggenggam erat. Ada ketentraman di sana. Seolah-olah keduanya tak ingin dipisahkan lagi. Lakukanlah mandi janabah bersama, guna melengkapi kemesraan di malam zafaf, seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW bersama istri tercintanya Aisyah RA. Semoga ikatan hati semakin kuat, dan jalinan perasaan (al 'athifah) semakin tumbuh. Masih ada gurauan-gurauan kecil sewaktu mandi bersama.

Malam pengantin sejatinya bukan hanya sekadar milik pasangan baru. Tapi semestinya ia tetap lestari, subur dan tak boleh luntur meskipun usia pernikahan telah uzur. Tentunya dengan format, resep dan menu yang berbeda. Umur pernikahan boleh lapuk namun cinta dan kasih dalam keluarga tetap harus dipupuk. Di saat bahtera rumah tangga sedang dihantam badai konflik, kemelut yang cukup menegangkan persendian, maka mengenang keindahan malam-malam pengantin adalah satu solusi jitu untuk mengembalikan rumah tangga pada iramanya yang tenang. Agar kicauan burung-burung kembali terdengar, menyanyi dan bersenandung merdu. Di kala bunga-bunga cinta yang tumbuh di hati mulai kering dan layu, segeralah alirkan memori indah malam pengantin syahdu yang mendayu-dayu, agar ia bisa menjadi musim semi dalam taman rumah tangga. Kehadiran anak dalam rumah tangga, tidak menghalangi pasutri untuk menghidupkan kembali malam-malam pengantinnya, tentunya dengan mengatur tempat dan waktu yang tepat.

Bagi pasutri yang belum memiliki keturunan, jadikanlah malam-malam di awal musim panas ini menjadi malam-malam pengantin yang menyejukan hati dengan bumbu-bumbu yang serba baru. Belum hadirnya anak dalam rumah tangga, anggaplah sebagai bulan madu yang terus diperpanjang. Dan bagi yang masih hidup menyendiri, isilah malam-malam yang panjang dengan dzikir dan shalat malam. Perbanyaklah do'a di hadapan-Nya, agar sang bidadari atau sang arjuna yang dinanti dan didamba segera hadir menjelma di alam nyata. Jangan anda habiskan waktu luang untuk menghayalkan malam pengantin yang saatnya belum tentu. Karena keindahan yang anda bayangkan justru membuat anda semakin meradang dan menjerit pilu. Allahu A'lam bishawab.

silahkan lihat di: http://www.pks-arabsaudi.org/pip/?pilih=lihat&id=232

Kamis, 27 Mei 2010

Mengungkapkan isi hati

Hari ini, belum berapa lama mentari bersinar. Tapi hangatnya sudah terasa membakar diri. Gerah. Yang secara tidak langsung membuat marah. Tersinggung sedikit aja, langsung naik pitam. Gondok yang luar biasa.

Dekapan akan pekerjaan membuat hati semakin bosan. Ingin berlari meninggalkan semua. Bersepi tenang di alam segar. Menghirup udara sehat penuh ketenangan.Di iringi gemericik air yang berderak. Menguraikan semua bahan yang berani masuk ke arusnya.

Dentuman waktu belum mampu menggerakkan diri. Masih berbalut sungkan dan berbusana enggan. Menaikkan bilangan ketidakmampuan berbuat sebuah makna untuk kehidupan. Bosan dan takut. Bosan dengan kondisi yang ada namun takut berbuat sesuatu yang di luar kebiasaan. Ingin membungkam semua yang bersuara. Ingin mendiamkan semua yang ribut. Diam. Tenang. Itulah yang membawa senyum diam dan tanpa ekspresi. Tatapan kosong seolah tanpa beban. Perilaku diam seolah tidak peduli. Sebagai ungkapan hati yang resah dan gelisah menjalani hidup yang payah.

Semua hanya membawa pada detik keterlupaan dari sekian masalah pelik. Karena memang sudah diberhentikan dari berbagai kinerja dan fungsi. Kediaman itu harus dijalani dan mau tidak mau harus diikuti. Kelahiran semua keisengan boeh jadi hadir dari situ. Tapi, kini iseng yang tak seberapa itu membuahkan hasil ayng luar biasa.

Ketersingkiran dan keterasingan melingkupi semua jiwa dan paradigma. Pikiran semakin picik. Semakin sempit. Mendatangkan keengganan untuk berkarya dan beramal dakwah. Semua hal yang mengusik diri karena terasa tidak sesuai dakwah hanya didiamkan. Karena memang di lahan ijtihadi. Dan kini hubungan itu sudah diberhentikan.

Posisi yang aneh. Walaupun sebenarnya dalam dakwah tidak mempedulikan struktur dan jabatan. Yah, pemahaman itu harus dihunjamkan di hati. Bukan di mana sekarang yang penting. Tetapi peran apa yang dilakukan. sekarang, saat ini. Apa pengaruhnya bagi dakwah. Pertanyaan sejenis harus bertabur di benak. Agar bisa eksis walaupun dari tepi.

Yah, eksistensi sebagai kader. Itu yang harus dijaga.

Lain lagi, pengaruh usia yang berkaitan dengan perkembangan biologis dan psikologis. Gerakan rasa fitrah itu menjadi lintasan yang tak kenal henti. Dan tak jarang membuahkan ketidakteratuaran amal bahkan kemaksiatan. Mengungkapkan isi hati adalah cara mengurangi tekanan lintasan itu. Lintasan itu harus dialihkan ke araah yang tidak salah. Setidaknya dilepaskan di daerah yang memiliki efek terkecil.

Semakin sensitif aja. Semakin aneh. semakin tertinggal.

Akankah ini menjadi kejadian yang direkamkan sejarah untuk diri? Melawan rasa itu tidak mudah. Mengaturnya juga tidak gampang. Ia berseifat bolak balik. Rasa itu erat dengan kondisi hati. Semoga saja beratubat dengan segera dan sungguh-sungguh.
Semoga sukses!!

Selasa, 18 Mei 2010

MENYIKAPI CINTA

Rasa itu hadir tanpa pemberitahuan. Ia merasuk ke dalam hati dan menjalar ke seluruh tubuh mengikuti aliran darah. Jika tersalah maka ia akan disusupi syetan. Maka, jadilah ia cinta yang dilandasi nafsu. Cinta itu pun akan berbunga syahwat yang kian membara mencari sasarannya. Dan ini lah yang sering menjadikan pemilik rasa itu melakukan, terkadang, hal-hal di luar hal yang dibenarkan.

Akan menjadi berbeda bila cinta itu mengalir seiring aliran darah dan ditaburi sinar hidayah. Maka ia akan menjadikan pemilik rasa itu semakin dewasa dan mendekat pada peciptanya. Boleh jadi kedu ahal ini silih berganti terjadi pada diri seseorang.

Rasa suka pada lawan jenis yang sering diidentikkan dengan cinta, sebenarnya adalah fitrah manusia. Allah sudah menyatakan yang demikian dalam surat Ali Imran ayat 14. Dan ia bukan dosa. Hanya saja penempatannya dan pengelolaannya bisa menjerumuskan ke lembah dosa jika tidak mengikuti rambu-rambu.

Sikap terbaik yang harus dilakukan untuk menyikapi rasa itu adalah:
1. Menyadari rasa itu adalah fitrah manusia dan tidak menyepelekannya.
Kehadiran rasa itu harus menyadarkan kita bahwa kita adalah hamba yang sangat lemah, sehingga untuk mengusir rasa itu pun kita tidak mampu. Ingatlah tata urutan cinta yang Allah paparkan dalam surat Attaubah ayat 24. Renungi ayat dan kandungannya dan sebarkan maknanya ke dalam hati. Rasakan cinta itu dalam hati. Di manakah posisinya? Sudahkah tepat sesuai surat Attaubah ayat 24?

2. Menjaga diri dari melanggar aturan pergaulan. Bahwa sebelum ijab kabul diucapkan, maka aturan syariat tentang hubungan lawan jenis masih berlaku. Jangan membuat orang yang kita cintai merasa bersalah dan berdosa. Karena boleh jadi, ketika dia tahu rasa itu ada di hati kita terhadapnya, dia akan merasa gagal menjaga hijabnya. Jangan siksa orang yang dicintai dengan perasaan bersalah. Tak perlu memberi sinyal-sinyal cinta sehingga dapat merusak komunikasi. Kata kuncinya adalah menjaga pandangan.

3. Menilai diri. Sudahkah layak dan sanggup untuk menyempurnakan agama? Karena rasa itu diberkahi dengan dijalinnya hubungan yang suci.Pernikahan.
Kalau belum, jagalah sikap dan adab terhadap orang yang dicintai. Sepatutnya kita memuliakan yang kita cintai bukan menghinakannya. Ingatlah, bahwa lelaki yang mengatakan rasa sukanya kepada seorang wanita tetapi ia tidak berani melamarnya seketika itu, maka ia adalah pendusta. Ia menjadi penggoda bagi orang yang dia sayangi.

4. Jangan berlaku keras terhadap rasa itu . Wajar sajalah. Semakin ia di tekan maka perlawanannya semakin kuat. Tapi jangan diikutkan. Sadari bahwa orang yang kita cinta itu juga manusia yang memiliki kekurangan. Kalaupun ia sempurna di mata kita, belum tentu ia yang terbaik dan tepat untuk kita. Karena hubungan itu bukan untuk pelampiasan keinginan saja. Tapi ada tujuan yang mulia yang harus ada ketika hubungan suci, pernikahan, itu dikibarkan. Banyaklah belajar ilmu tentangnya.

5. Isilah pikiran dan hati dengan hal yang bermanfaat. Memperbanyak zikir (membaca Al quran, shalat) dan mengadukan isi hati itu pada pemiliknya merupakan langkah utama yang tak boleh ditinggalkan. Luapkan rasa itu, mengadulah pada Allah, titiskan saja air mata itu dan rasakan kehinaan diri dan kekurangan diri. Ingatlah! Rasa itu adalah lintasan pikiran yang apabila tidak kita usik maka ia akan segera berlalu.Sama seperti oarang yang melintas di depan rumah kita. Jika ia kita sapa, maka ia akan berbicar banyak dan bisa mempengaruhi kita. Maka sapalah lintasan pikiran yang lain.

6. Jika rasa itu menuntut peluapan, maka luapkan saja pada media tulis alias buku diari. Jangan malu. Ungkapkan dan simpan rapi. Tetapi jangan dijadikan sebagai konsumsi umum dan jangan disebarluaskan kepada siapapun. Bahkan boleh jadi dengan begitu ada kesempatan untuk berkarya melalui tulisan. Bukankah dakwah dengan pena itu juga pernah dilakukan Rasul saw. Tapi jangan coba untuk menuliskan sesuatu dengan tujuan agar di baca si dia.

7. Hindari hal-hal yang mengingatkan kita pada si dia.

8. Berbenah diri. Siapkan diri untuk pantas dan dan layak untuk mendampinginya. Jalin komunikasi dengan orang tua dan pihak terkait (red: Murabbi). Jika sudah mantap maka majulah ke jenjang selanjutnya. Sempurnakan agama denga menikah, separuhnya lagi denga bertakwa.

9. Jangan ngotot. Jangan berpikiran picik, bahwa dia satu-satunya yang tepat. Maka tujuan memuliakan dan bertakwa juga dakwah harus dijadikan pokok pikiran utama dalam proses pernikahan. Tujuan kita adalah ridha Allah bukan sosoknya itu. Bukankah Allah maha tahu? Siapakah yang lebih tahu mana yang terbaik buat kita selain Allah azza wa jalla?

10. Jika masih harus menunda, bersabarlah. Perbanyak benteng diri. Berpuasa. Begitu kata Rasul saw dalam haditsnya. Dan teruslah berbenah diri untuk menjadi pantas dan mampu.

11. Senantiasalah menjalin cinta yang lebih kuat kepada Allah daripada selainnya. Buktikan cinta itu dengan mengikuti Rasul-Nya. Seperti apa yang Allah cantumkan dalam surat Ali Imran ayat 31.

Semoga Allah mudahkan semua orang yang memelihara dirinya dari kehinaan. Yang bersusah payah untuk menjadi manusia yang tidak sama dengan binatang. Fa'tabiiru yaa ulil albaab. Wallahua'lam bish shawab.

Senin, 17 Mei 2010

Saat Jatuh Cinta

Aku sadari bahwa rasa ini tidaklah dosa. Tetapi kesalahan menyikapinya bisa membuat jadi berdosa. Dan aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku memiliki rasa simpati dan kekaguman pada seorang yang menawan di mataku. Aku tau dia tidaklah sempurna. Tapi tak tahu kenapa aku merasa dialah yang bisa membuat aku semakin berarti.

Untukmu yang kucinta
Perasaan ini tak akan aku utarakan padamu karena memang tak layak. Aku hanya akan sampaikan isi hatiku ini padamu jika memang takdir sudah nyata bahwa aku halal untukmu.
Aku mencintaimu. Tanpa sebab. Karena cinta ini hadir seketika dan tak pernah kuundang. Aku semakin sakit disaat ia kuusir. Aku sadar, cintaku tetaplah kuutamakan pada-Nya. Terus terang cintaku padamu tak sebesar cintaku padamu. Karenanya, rasa ini hanya akan membawaku pada kebaikan. Takkan aku tampakkan. Biarlah dirimu ada dihatiku sebagai rasa fitrah. Tak lebih. Semoga Dia kuatkan aku menjaga rasa ini agar tidak menjadi fitnah. Aku tahu ungkapan via tulisan ini akan menuai kontroversi. Tapi aku hanya menetralkan hati dengan mengungkapkannya. Walaupun semua terapi hati yang kuketahui sudah kulakukan, tetap saja ia menggelora dan sering menjadi bayangan yang dihiasi nafsu.

Aku mencintaimu. Aku tahu aku bukan seorang yang luar biasa. Aku juga tidak berharap engkau sempurna. aku hanya ingin engkau semakin berarti dengan kebersamaan yang tercipta, semoga. Aku ingin engkau menjadi penyokong kelemahanku. Dan aku berharap bisa meneguhkanmu dan menambah daya peranmu di dalam kebaikan.

Semoga pertemuan itu semakin nyata. Walaupun pada akhirnya, tidak bertemu, aku yakin perasaan ini akan berganti arah kepada yang Allah berikan. Rasa ini akan tetap ada dan akan memuliakanmu. Bukan salahmu.

Aku sungguh ingin menjadi pendampingmu. Memberikan apa yang aku mampu untuk membuatmu bahagia. aku cinta padamu.

Kamis, 22 April 2010

BILA HADIR RASA CINTA, JADIKAN IA CINTA YANG MEMBAWA KITA KE SURGA

Jatuh ....yang tak mengundang orang simpati ialah jatuh cinta.CINTA adalah fitrah dan karunia ILLAHI.Tidak ada siapapun yang dapat melarikan diri daripada mencintai dan dicintai.Namun demikian , puncak CINTA........ada orang masuk surga karena CINTA dan tak sedikit orang yang di hujam ke neraka gara-gara CINTA.CINTA yang bagaimana yang bisa membawa seseorang ke surga?

CINTA yang dialirkan oleh ALLAH kedalam hati, itulah CINTA yang benar, suci lagi murni.CINTA yang bukan diukur ikut pandangan mata,tapi ikut pandangan ALLAH.Ia ada karena ALLAH dan CINTA diberipun untuk dapat keridhoan ALLAH.CINTA begini tiada batasannya.Tidak pula kenal jenis kelamin dan kedudukan.Dan CINTA lahir hasil dari samaCINTA pada ALLAH.

CINTA ynag sesungguhnya ini bisa berlaku pada lelaki dan lelaki,perempuan dengan perempuan,lelaki dengan perempuan,antara murid dengan guru,suami dengan istri,sahabat dengan sahabat,rakyat dengan pemimoin, antara umat dengan Nabinya dan yang paling tinggi antara hamba dengan TUHANNYA.

CINTA KARENA ALLAH

Kalau berlaku antara lelaki dan perempuan yang tidak diikat oleh perkawinan , mereka tak akan memerlukan untuk berjumpa,berbicara atau melakukan apa saja yang bertebntangan dengan kemauan ALLAH.

CINTA mereka tidak akan tercela oleh nafsu birahi.Sebaliknya CINTA itu adalah tautan hati yang berlaku walaupun tak pernah berjumpa atau baru kenal tapi hati rasa sayang dan rindu.Hati sedih kalau orang yang kita cintai ditimpa susah,senangkalau yang dicintai itu senang.Sanggup susah dan korbankan diriuntuk senangkan orang yang dicintai.

CINTA yang begini diceritakan dalam hadist, yaitu seorang lelaki yang bertemu dan berpisah dengan sahabatnya karena ALLAH maka mereka akan mendapat perlindungan 'ARSY ALLAHdipadang mahsyar nanti,hari dimnan masing-masing orang mengharap sangat lindungan dari matahari yang sejengkal saja dari kepala.

Kalau bertlaku antara suami istri , maka istri akan meletakkan seluruh ketaatan pada suami,hormat dan melayani suami tanpa jemu.Baik ketika suami tunjukkan sayang atau ketika suami marah-marah.Baik ketika suami kaya atau miskin ,atau suami kawin lagi , CINTA istri pada suami tidaka akan terbagi.

Karena CINTANYA pada suami datang dari ALLAH hasil ketaqwaan istri.Biarpun datangtopan badai,melanda rumah tangga,istri tetap memberikan CINTAnya yang utuh dan teguh.

Begitu juga suami , CINTA pada istri tidak pandang itu istri tua atau muda.Terpatri pada hatinya.Selagi istri taat pada ALLAH,istri tetap dikasihinya.Kalau dia ada empat istri,tentulah istri-istri akan bertanya -tanya , istri yang manakah yang paling dicintai oleh suami?Kalau CINTA itu bersumber dari ALLAH , tentu istri yang paling bertaqwalah yang paling dicintai oleh suami lebih dari istri-istri yang lain.

CINTA ALLAH YANG UTAMA

Sumber CINTA yang datang dari ALLAH akan meletakkan ALLAHyang paling tinggi dan utama.Bila berlaku perseteruan antara CINTA ALLAH dengan CINTA pada makhluk maka CINTA ALLAH dimenangkan.

Misalkan seorang istri yang CINTA pada suaminya.Tiba-tiba suami melarang istri melakukan ketaatan pada ALLAH, dalam hal menutup aurat, padahal tutup aurat itu ALLAH wajibkan.Maka kecintaan pada ALLAH itu akan mendorong nya untuk tetap malaksanakan perintah-NYA walaupun suami tidak suka ataupun harus kehilangan suami.

Sanggup dilakukan sebagai pengorbanan CINTAnya pada ALLAH.Sebaliknya kalau dia turut kemauan suami artinya kata CINTA pada ALLAH hanya pura-pura,CINTAnya bukan lagi bersumber kan ALLAH tapi datang dari nafsu.

CINTA yang datang dari ALLAH menyebabakan seseorang cukup takut untuk melanggar perintah ALLAH yang kecil ,apalagi yang besar.Seseorang yang sudah dapat mencintai ALLAH ,CINTA ynag lain jadi kecil dan rendah baginya.

Sejarah menceritakan kisah CINTA Zulaikha terhadap Nabi Yusuf.Sewaktu Zulaikha dibelenggu oleh CINTA nafsu yang berkobar-kobar pada Nabi Yusuf , dia sanggup hendak menduakan suaminya ,yang seorang menteri.

Ketika Nabi Yusuf menolak keinginannya, ditariknya baju Nabi Yusuf hingga terkoyak.Akibat dari peristiwa itu ,Nabi Yusuf masuk penjara.Tinggalah Zulaikha memendam rindu CINTANYA kepada Yusuf.

Penderitaan CINTA yang ditanggungb oleh Zulaikha menyebabakandia berubah dari seorang perempuan yang cantik menjadi perempuan tua yang tidak cantik lagi.Matanya banyak menangis terkenangkan Yusuf,hartanya habis dibagi-bagikan karena Yusuf.Sehingga datanglah belas kasihan dari ALLAH terhadapnya.Lalu ALLAH mewahyukan agar Nabi Yusuf mengawini Zulaikha setelah ALLAH mengembalikan kesehatan dan kecantikannya.

Peliknya , ketika Zulaikha mengenal ALLAH,datanglah CINTAnya pada ALLAH sehingga waktunya lebih banyak di habiskan untuk bermunajat dengan ALLAH dalam ibadah dan dzikir.

Begitulah betapa CINTA yang dulunya datang dari nafsu dapat dipadamkan bila kenal dan CINTA pada ALLAH.CINTA ALLAH adalah CINTA taraf tinggi.Puncak CINTA ini ialah pertemuan yang indah dan penuh rindu di surga yang dipenuhi kenikmatan.

CINTA pada ALLAH akan lahir pada orang yang mengenal ALLAH.Karena CINTA lahir ada penyebanya.Kalau wanita CINTA pada lelaki karena kayanya,baiknya , tampan, dan sebagainya dan lelaki CINTA wanita jarena cantik,baik ,lemah lembut dan sebagainya maka bagi mereka yang berakal akan merasa lebih patut dicurahkan rasa CINTA pada ALLAH karena segala kenikmatan itu datangnya dari ALLAH.

Ibu bapak ,suami istri, sahabat, handai taulan dan siapa yang mengasihi dan mencintai kita , hakekatnya semuanya datang dari ALLAH.Kebaikan ,kemewhan dan kecintaan yang diberikan itupun atas rahmat dan belas kasih dari ALLAH pada kita.Sehingga ALLAH izinkan makhluk-NYA yang lain CINTA pada kita.

ALLAH yang menciptakan kita makhluk-NYA , kemudian diberinya kita berbagai nikmat seperti sehat,gembira dan lain-lain.Baik kita ingat pada-NYA ataupun waktu kita lalai , tetap diberi-NYA nikmat-nikmat itu.Begitulah , kebaikan ALLAH pada kita terlalu banyak sebagaimana firman-NYA, yang berarti:
"Kalau kamu hendak menghitung nikmat -nikmat ALLAH, niscaya tidak akan terhitung."

Besar sungguh jasa ALLAH dari menciptakan menghidupkan dan memberi rezeki, suami , istri, rumah dan macam-macamlagi yang dengannya kita melalui kehidupan dengan aman bahagia.

Alangkah biadabnya kita kalu segal pemberian ALLAH itu kita ambil , tapi lupa untuk bersyukur pada yamag Memberi.ALLAH bisa saja menyusahkan dan menyenangkan kita dengan Kehendak-NYA.

Oelh itu orang yang betul kenal dan beradab, dia malu pada ALLAH. malah karena malunya itu dia tidak nampak yang lain lebih hebat dari ALLAH.CINTAnya tertumpu pada ALLAH ,penyerahan diri pada ALLAH sungguh- sungguh.

Setiap saat menanggung rindu.lalu waktunya di habiskan untuk berbisik- bisik dengan kekasihnya.Bila CINTA ALLAH sudah penuh dalanm hatinya , maka tidak ada tempat lagi untuk CINTA selain dari itu.

Ada orang mengatakan :"JIKA KAU BERIKAN HATIMU ATAUPUN CINTAMU PADA MANUSIA NISCAYA CINTAMU NISCAYA DIA AKAN MEROBEK -ROBEKNYA.TAPI KALAU HATI YANG PECAH ITU DIBERIKAN PADA ALLAH NISCAYA AKAN DISATUKANNYA .ARTINYA CINTA DENGAN ALLAH PASTI TERBALAS. DAN ALLAH TIDAK MEMBIARKAN ORANG YANG DICINTAI-NYA MENDERITA DI AKHERAT."

Jadi seorang yang bijak dan beradap akan meletakkan kecintaan yang besar pada ALLAH, pada Rasulullah dan barulah pada makhluk -makhluk lain di samping-NYA.Itulah peletakan CINTA yang yang betul dan menguntungkan didunia dan di akherat. Itulah dia CINTA kita pada ALLAH SWT yang patut kita letakkan.

SEKALI RASA CINTA ITU HADIR..........
INGATLAH IA ADALAH KARUNIA ALLAH.............
HIDUP INI MENJADI INDAH KARENA CINTA............
CINTA YANG SUCI...............
BUKAN CINTA YANG MENYERET KE NERAKA.
SEKALI RASA CINTA ITU HADIR .....................
SAMBUTLAH DENGAN BENAR............
JAGA...................PELIHARA.....................
DAN JADIKAN IA CINTA YANG MENGHANTARKAN KE SURGA..................

{MUTIARA AMALY}.

Kamis, 18 Maret 2010

Taujih dari DR. Muhammad Badi, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 04-02-2010

Penerjemah:Abu ANaS

Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam atas Rasulullah saw, dan orang-orang yang mendukungnya

Allah SWT berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”. (Al-Ahzab:23)

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki”. (Al Imran: 169).

Kami ingin menghadirkan peringatan hari syahidnya Hasan Al-Banna, 12 Pebruari tahun 1961, yang kita menyadari bahwa Hasan Al-Banna telah pergi untuk menghadap Tuhannya dengan penuh keridhaan dan diridhai; banyak peluru telah menembus tubuhnya yang selalu menghabiskan waktu malamnya dengan bersujud dihadapan Allah, dan pada siang harinya berjuang di jalan Allah menyusuri pelosok daerah dan kota di Mesir, dari ujung hingga ujung lainnya, namun semangat, manhaj dan pembangunan yang beliau tegakkan tetap membara, dan seiring dengan berjalannya waktu kekokohan dan peraturan kian terus bertambah dan meningkat, Imam Syahid Hasan Al-Banna telah memberikan darahnya yang suci dan bersih sebagai martir dan bahan bakar yang tidak akan pernah putus, namun terus melahirkan para syuhada dan air mata para sajidin (ahli sujud) dihadapan Allah SWT, ketegaran orang-orang yang disiksa di penjara, dan doa jutaan tahanan dan keluarga mereka kepada Allah, Tuhan semesta alam, dan keteguhan orang-orang yang mengorbankan hartanya yang berharga dan jiwanya yang mahal di jalan Allah dalam mempertahankan aqidah, fikrah dan manhaj mereka untuk menggapai ridha Allah, Tuhan semesta alam; karena Allah adalah tujuan mereka, Rasul adalah teladan mereka, jihad adalah jalan mereka, syariat adalah manhaj mereka, dan kematian di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi mereka, mereka jujur kepada Allah dan Allah menerima kejujuran mereka.

Beliau memiliki nama yang bernasib baik; beliau telah meletakkan bangunan besar dan menjulang tinggi, menghirup kebaikan dari sirah Nabi saw sebagai manhaj yang jelas dan gamblang untuk melakukan reformasi dan perubahan; guna mencapai tujuan dan misi yang mulia dan suci yaitu bangkitnya umat Islam, menghidupkan kembali kemuliaannya, memulihkan martabat dan kepemimpinannya di seluruh dunia, setelah membebaskan tanah air dan mengembalikan entitas internasional untuk umat ini.

Metode ini telah dibuat langkah-langkahnya, ditentukan karakternya

Bersumber dari firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)

Dan firman Allah:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“(siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri”. (Al-Anfal:53)

Dan firman Allah:

قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Katakanlah, itu datang dari sisi kalian sendiri” (Ali Imran:165)

Dan firman Allah:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (An-Nahl:112)

Beliau menetapkan konsep kerja yang kongkret dan objektif, yang mebuktikan pada hari-hari ini akan kelayakan dan utilitasnya, berbeda dengan kegagalan yang dilakukan oleh kelompok pemilik rencana dan konsep yang premature; konsep yang bermula dengan melakukan perbaikan pada individu, pembentukan rumah tangga Islami, mengarahkan masyarakat kepada yang lebih baik, memerangi kejahatan dan kemungkaran, lalu berlanjut pada kemerdekaan tanah air dari segala dominasi dan hegemoni asing, mereformasi dan memperbaiki pemerintah sehingga mereka mau berjalan sesuai dengan manhaj Islam, dan berakhir pada kembalinya entitas internasional untuk umat Islam dan guru bagi dunia, tanpa melakukan pengawasan satu dengan yang lainnya, bahkan menuju kemanusiaan global seperti yang dibawa oleh Islam.

Imam syahid pada awal dakwah yang memiliki asas dan sebagai rukun padanya “Dari mana kami memulai”?

إِنَّ تَكْوِيْنَ الأُمَمِ، وَتَرْبِيَةَ الشُّعُوْبِ، وَتَحْقِيْقَ الآمَالَ، وَمُنَاصَرَةَ الْمَبَادِئِ؛ تَحْتَاجُ مِنَ الأُمَّةِ الَّتِي تُحَاوِلُ هَذَا أَوْ مِنَ الْفِئَةِ الَّتِي تَدْعُوْ إِلَيْهِ عَلَى الأَقَلِّ إِلَى قُوَّةٍ نَفْسِيَّةٍ عَظِيْمَةٍ، تَتَمَثَّلُ فِي عِدَّةِ أُمُوْرٍ: إِرَادَةٌ قَوِيَّةٌ لاَ يَتَطَرَّقُ إِلَيْهَا ضَعْفٌ، وَوَفَاءٌ ثَابِتٌ لاَ يَعْدُو عَلَيْهِ تُلَوُّنٌ وَلاَ غَدَرٌ، وَتَضْحِيَةٌ عَزِيْزَةٌ لاَ يَحُوْلُ دُوْنَهَا طَمَعٌ وَلاَ بَخْلٌ، وَمَعْرِفَةٌ بِالْمَبْدَأِ وَإِيْمَانٌ بِهِ وَتَقْدِيْرٌ لَهُ، يَعْصِِمُ مِنَ الْخَطَأَ فِيْهِ وَالانْحِرَافِ عَنْهُ وَالمُسَاوَمَةِ عَلَيْهِ وَالْخَدِيْعَةِ بِغَيْرِهِ.. عَلَى هَذِهِ الأَرْكَانِ الأَوَّلِيَّةِ الَّتِي هِيَ مِنْ خُصُوْصِ النُّفُوْسِ وَحْدِهَا، وَعَلىَ هَذِهِ الْقُوَّةِ الرُّوْحِيَّةِ الْهَائِلَةِ تُبْنَى المَبَادِئُ، وَتَتَرَبَّى الأُمَمَ النَّاهِضَةَ، وَتَتَكَوَّنَ الشُّعُوْبَ الَفَتِيَّةَ، وَتَتَجَدَّدَ الْحَيَاةَ فِيْمَنْ حُرِمُوا الْحَيَاةُ زَمَنًا طَوِيْلاً

“Bahwa pembentukan suatu bangsa, pembinaan suatu umat, untuk mewujudkan harapan, menyokong prinsip-prinsipnya; membutuhkan peran dari umat yang berusaha melakukan ini atau suatu kelompok yang menyeru kepadanya, minimal pada kekuatan psikologis yang besar, yang terdiri pada beberapa hal: keinginan yang kuat yang tidak ada kelemahan di dalamnya, keteguhan yang tidak terkontaminasi atau ada pengkhianatan di dalamnya, pengorbanan yang murni yang tidak dihalangi oleh adanya keserakahan dan kekikiran, mengenal tentang prinsip, meyakininya dan menghargainya, terlindung dari kesalahan di dalamnya, tidak ada penyimpangan dan tawar-menawar serta penipuan padanya…. Berbagai rukun yang utama ini merupakan bagian dari karakteristik jiwa itu sendiri, merupakan kekuatan kekuatan spiritual yang luar biasa ini yang mampu membangun dan memperkokoh prinsip-prinsip, dan membina umat untuk bangkit, yang terdiri dari umat dari kalangan muda dan energik, dan memperbaharui hidup dari mereka yang telah begitu lama telah kehilangan semangatnya. “

Setiap bangsa yang kehilangan empat karakter diatas atau setidaknya kehilangan penuntunnya dan penyeru reformasi di dalamnya, akan menjadi bangsa yang miskin dan kacau, tidak akan dapat meraih kebaikan, tidak akan mampu mewujudkan harapan, dan akan terpaku pada kehidupan dalam suasana mimpi, berfantasi dan wahm (praduga).

إِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Padahal sesungguhnya praduga itu tidak memberikan kebaikan sedikitpun” (Yunus:36).

Ini adalah hukum Allah dan sunnatullah dalam ciptaan-Nya, dan kita tidak akan menemukan perubahan sedikitpun dari sunnatullah ini

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)

Dan dengan jelas beliau menyatakan bahwa kebangkitan suatu bangsa tidak akan tercapai hanya pada dasar-dasar Islam dan aturan-aturannya, dan inilah yang ditetapkan setelah syhadinya Al-Banna pada keyakinan umat, dan diungkapkan oleh umat Islam pada setiap referendum atau pemilu yang bebas dan adil dengan mendukung proyek Islam.

Imam Al-Banna berkata:

إِذَا كَانَ الإِخْوَانُ الْمُسْلِمُوْنَ يَعْتَقِدُوْنَ أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَضَعَ فِي هَذَا الدِّيْنِ الْقَوِيْمِ كُلَّ الأُصُوْلِ اللاَّزِمَةِ لِحَيَاةِ الأُمَمِ وَنَهْضَتِهَا وَإِسْعَادِهَا؛ فَهُمْ يُطَالِبُوْنَ النّاسَ بِأَنْ يَعْمَلُوْا عَلَى أَنْ تَكُوْنَ قَوَاعِدَ الإِسْلاَمَ الأُصُوْلَ الَّتِي تُبْنَى عَلَيْهَا نَهْضَةَ الشَّرِقْ الْحَدِيْثِ فِي كُلِّ شَأْنٍ مِنْ شُئُوْنِ الْحَيَاةِ، وَيَعْتَقِدُوْنَ أَنَّ كُلَّ مَظْهَرٍ مِنْ مَظَاهِرِ النَّهْضَةِ يَتَنَافَى مَعَ قَوَاعَدِ الإِسْلاَمِ وَيَصْطَدِمُ بِأَحْكَامِ الْقُرْآنِ؛ فَهُوَ تَجْرِبَةٌ فَاسِدَةٌ فَاشِلَةٌ، سَتَخْرُجُ مِنْهَا الأُمَّةُ بِتَضْحِيَاتٍ كَبِيْرَةٍ فِي غَيْرِ فَائِدَةٍ

“Jika Ikhwanul Muslimin percaya bahwa Allah yang Maha Kuasa menempatkan agama yang lurus ini semua dasar-dasarnya yang diperlukan untuk kehidupan bangsa, kebangkitan dan kebahagiannya; Maka mereka juga mengajak umat yang lainnya untuk bekerja dengan mengikuti segala aturan-aturan dasar Islam yang dapat membangun kebangkitan timur dalam segala urusan kehidupan, dan mereka percaya bahwa dari setiap aspek kebangkitan yang tidak sesuai dengan aturan Islam dan bertabrakan dengan Al-Quran; maka akan menjadi pengalaman kegagalan dan kenistaan, darinya akan mengeluarkan umat dengan dengan berbagai pengorbanan yang besar bangsa tanpa ada manfaat sama sekali “.

Sungguh telah terbukti pada hari-hari dan peristiwa masa lalu selama lebih dari satu abad, bahwa setiap percobaan suatu kebangkitan yang dilakukan suatu bangsa selalu menemui jalan buntu, dan kita masih saja mencari jalan menuju kemerdekaan yang hakiki, untuk memiliki kehendak yang merdeka, keadilan yang sejati, keadilan sosial dan supremasi hukum, kebebasan secara komunal, dan devolusi kekuasaan, yang berasal dari pemimpin umat yang dihasilkan oleh pemilu yang bebas, meskipun berlalunya zaman di mana umat melewati kekuasaan liberal, sosialisme atau komunisme, kudeta militer, sehingga kita selalu menghadapi berbagai duri dan benturan, lalu kembali dari awal ..

Demikianlah yang dilakukan oleh pasukan pendudukan asing (imperialis) atas lebih dari 40 negara, yang dipimpin oleh Amerika Serikat yang berhasil menduduki Palestina, Irak, Afghanistan dan Somalia ..

Demikianlah yang terjadi; adanya pangkalan militer AS yang tersebar di seluruh daerah dan negeri yang diduduki pada negara-negara Arab dan Islam dari benua ke benua lainnya melewati Teluk ..

Demkianlah perjanjian perdamaian yang dilakukan pemerintah Islam, dan menempatkan pasukan tentara dan polisi dalam menghadapi rakyatnya sendiri atau terhadap negara tetangganya yang muslim ..

Semua ini, meskipun manifestasi formalnya adalah kemerdekaan; baik media, konstitusi, parlemen, kementerian, dan meskipun semua kesepakatan evakuasi, bahkan telah menguras kekayaan bangsa Arab dan Muslim; individu, pemerintah, lembaga dan perusahaan, hingga tersesat dalam petualangan harta dan terjerumus pada bank-bank konvensional yang selalu mengkonsumsi riba dua kali lipat, menyia-nyiakan harta hingga triliunan bukan miliaran saja, dan kelaparan yang membunuh jutaan Muslim, kamp-kamp penampungan yang diisi negara Muslim dalam kondisi lapar dan kelelahan dari orang tua, wanita dan anak-anak.

Sekalipun demikian, konferensi dan konspirasi yang sering diadakan secara diam-diam pada abad yang lalu dan sekarang diadakan secara terang-terangan, di siang hari bolong, dan dihadiri oleh para pejabat dari anak bangsa kita, para pembuat keputusan yang selalu mengekor pada dikte kekuatan asing; untuk bersekongkol melawan anak bangsa mereka, memberikan dukungan kepada asing untuk melawan orang-orang mereka sendiri. Sungguh menakjubkan sekali!! Dua pertemuan yang dilaksanakan secara bersamaan di London, ibu kota kerajaan Inggris yang masih memainkan peran sebagai penjajah; yang kekuatannya telah hilang dalam memiliki perasaan jutaan umat, namun itulah konspirasi – walaupun semua komisi penyelidikan formal yang tidak melakukan apa-apa – dan kolusi dan mematuhi perintah dari pemimpin baru di dunia; dunia ketidakadilan, tirani dan kesewang-wenangan, untuk mengirim lebih banyak tentara dan menghabiskan lebih banyak uang, tidak untuk tujuan apapun dan bukan untuk alasan apapun, kecuali hanya untuk memotong jalan kebangkitan hakiki di negara Islam, yang dapat dicapai oleh kerja keras anak bangsanya, oleh langkah dan konsep nabinya, dan berjalan sesuai dengan manhaj Islamnya.

Demikianlah dunia – dengan Perserikatan Bangsa-Bangsanya dan komunitas internasionalnya – menampilkan entitas apharteidme dan rasisme yang menjijikkan; menodai tanah Palestina, menghancurkan pohon-pohon zaitun dan kebun-kebun anggur, dan membuat jutaan pengungsi lansia, perempuan dan anak-anak, sementara yang sudah menjadi orang tua tidak menadapatkan kunci rumah mereka sebagai hak warisan yang turun dari generasi ke generasi.

Meskipun semua perbuatan jahat nan keji yang terus dilakukan oleh komunitas jahat, dan seperti yang terakhir mereka lakukan oleh adanya pembunuhan as-syahid, “Mahmoud Abdul-Rauf Al-Mabhuh” di Uni Emirat Arab oleh agen Mossad, yang ikut hadir bersama dengan menteri Zionis yang telah menodai tanah Arab di bawah bendera konferensi internasional, dan menggunakan paspor Eropa, meskipun puluhan resolusi PBB; seluruh dunia – dan besamanya para pemimpin Arab dan Islam yang hina- tidak mampu bersikap tegas menghadapi pendudukan, dan tidak mampu menuntut balas atas kejahatan keji, bahkan tidak mampu menuntut bela terhadap penggunaan fosfor putih yang dilarang secara internasional baru-baru ini yang ditimpakan atas bangsa mereka sendiri, dan yang telah diakui telah digunakan dalam perang di Gaza setahun yang lalu, namun mereka tetap mendukungnya dengan uang dan senjata, peralatan dan pasukan, bahkan mereka tetap percaya dengan jalan damai dan keamanan melalui berbagai kesepatakan dan tembok dinding, serta mereka terus melakukan perlawanan terhadap pasukan perlawanan yang gagah berani dicegah dalam meraih hak mereka yang sah, sehingga mereka –para pemimpin yang mbalelo- terus melakukan berbagai tekanan dan menggunakan kertas tawar-menawar.

Bahwa Hassan Al-Banna tidaklah mati, namun ia tetap ada dari apa yang telah dibina pada penerusnya, meskipun tubuh yang kurus yang terus melakukan safar dan rihlah di jalan Allah telah hancur namun ruhnya tetap ada di tengah para umana (pemimpin) dakwah yang berjuang di seluruh pelosok bumi dalam lima benua.

Peristiwa-peristiwa ini hanya membuktikan kebenaran manhaj dan bersihnya dakwah ini.

Wahai Ikhwanul Muslimin…

Berjalanlah diatas jalan yang penuh keberkahan Allah..

Jadilah kalian orang-orang menepati janji dihadapan Allah..

Pelajarilah dan tadabburkanlah Al-Qur’an sehingga kalian dapat memahami jalan yang harus ditempuh dan yang telah dibuatkan konsepnya, teruslah berada pada sirah Rasul kalian saw sehingga kalian memahami manhaj kalian sebagai aplikasi praktis sirah Nabi saw…

Bekerjalah .. bekerjalah .. Dan bekerjalah .. dan janganlah kalian berputus asa; karena masa depan adalah milik dakwah kalian, dan kemenangan untuk umat kalian ..

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

”Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (At-Taubah:105)

Maha benar Allah yang maha Kuasa atas segala firman-Nya.

Imam Al-Banna dan Permasalahan Umat

Risalah dari DR. Muhammad Badi’ Mursyid Am Ikhwanul Muslimin

Penerjemah: Abu ANaS


Segala puji bagi Allah, Salawat dan salam atas Rasulullah saw dan orang-orang yang mendukungnya.

Hari-hari berlalu, dan tahunpun terlewati, membawa berbagai peristiwa, ujian dan cobaan yang dianggap oleh musuh-musuh Allah alat pamungkas untuk membasmi, namun hal itu tidak berarti bagi Ikhwanul Muslimin kecuali semakin bertambah dan meningkat tsabat (keteguhan) pada prinsip-prinsip mereka, dan bertambah yakin akan dakwah mereka, iman klaim, dan terus melalaju dalam berkorban dan berkontribusi untuk agama, ideologi dan tanah air mereka, bukan untuk mencari kepentingan pribadi, duniawi atau keuntungan semu, namun untuk mengikuti jejak langkah Rasulullah saw.

Bersama dengan perjalanan hidup yang penuh berkah ini, bendera iman masih terpatri di dalam hati, mengalir di urat nadi sebagai amanah, dalam perilaku sebagai komitmen, dan dalam pekerjaan dan berbagai akitivitas sebagai ibadah dan jihad.

Hal terbesar yang dapat memberikan kegembiraan bagi para aktivis yang memiliki komitmen adalah meninggikan bendera untuk dapat memberikan naungan kepada mereka, memberikan kenyamanan perjalanan hidup mereka dihadapan orang-orang yang terus meguntit dan memata-matai Islam dan umat Islam dalam rangka mencoba dan berusaha mematikan segala aktivitas dan agenda Islam yang konstruktif, sehingga -dengan demikian- mampu memberikan kenyamanan bagi semua khususnya orang-orang yang di dalam hati mereka memiliki keyakinan akan kebenaran dakwah Ikhwanul Muslimin, masuk dalam diri mereka ideologi Imam Al-Banna dan sikap-sikapnya terhadap berbagai masalah umat, yang mampu membuat para penulis, intelektual dan juru tulis selama delapan dekade terakhir sibuk dengan hal tersebut, Bahwa Imam Al-Banna telah sibuk dengan isu-isu dunia Islam dan problematika umat Islam di dalam maupun di luar negeri, khususnya masalah Palestina yang menjadi perhatian penuh olehnya sehingga tidak ada peringatan tentang Palestina kecuali selalu disandingkan dengan menyebut kiprah Ikhwanul Muslimin.

Imam Al-Banna telah menganggap permasalahan Palestina seperti dalam ungkapannya:

فِلِسْطِيْنُ تَحْتَلَّ فِي نُفُوْسِنَا مَوْضِعًا رُوْحِيًّا وَقُدْسِيًا فَوْقَ الْمَعْنَى الْوَطَنِي الْمُجَرَّدِ، إِذْ تَهِبُ عَلَيْنَا مِنْهَا نَسَمَاتِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ الْمُبَارَكَةِ وَبَرَكَاتِ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَمَهْدِ الْمَسِيْحِ عَلِيْهِ السَّلاَمِ، وَفِي كُلِّ ذَلِكَ مَا يَنْعِشُ النُّفُوْسُ وَيُغْذِي الأَرْوَاحِ

“Palestina menempati di dalam jiwa kita secara rohani dan Qudsi melebihi nilai-nilai nasional, karena Palestina memberikan kepada kita keagungan Baitul Maqdis yang penuh berkah dan berkah para nabi dan shiddiqin dan tempat kelahiran Nabi Isa AS, dan semua itu mampu memberikan kesegaran jiwa dan semangat bagi ruh.”

Bahwa Isu Palestina menurut Imam As-Syahid Al-Banna menempati posisi pertama yang juga merupakan isu dan permasalahan terbesar bagi Islam dan para pemeluknya, sebagaimana ia berkata:

قَلْبُ أَوْطَانِنَا، وَفَلْذَةُ كَبْدِ أَرْضِنَا، وَخَلاَصَةُ رَأْسِمَالِنَا، وَحَجْرُ الزَّاوِيَةِ فِي جَامِعَتِنَا وَوِحْدَتِنَا، وَعَلَيْهَا يَتَوَقَّفُ عِزُّ الإِسْلاَمِ وَخَذْلاَنِهِ

“(Palestina) Jantung tanah air kita, denyut nadi negeri kita, dan inti dari modal kita, pangkal persatuan dan kesatuan kita, dan atasnya pula terwujud kemuliaan Islam dan kehinaannya”.

Imam Syahid Al-Banna menjadikan isu Palestina sebagai isu bagi bangsa Arab dan umat Islam di abad kedua puluh ini; sehingga dengan itu Ikhwanul Muslimin telah banyak memberikan kontribusinya dalam Jihad di Palestina sejak tahun tiga puluhan, seperti pada tahun 1935 Imam Al-Banna berkomunikasi dengan sang mujahid, “Al-Qassam”, dan pada tahun 1936 beliau memberikan taujih sekaligus seruan hangat dan semangat serta menyeluruh kepada Ikhwanul Muslimin untuk berkontribusi dan mengumpulkan harta mereka untuk mendukung pada mujahidin selama terjadi intifadhah besar-besaran di Palestina, sebagaimana pernah diadakan muktamar Arab terbesar untuk memberikan dukungan kepada Palestina yang dilakukan di kantor pusat Ikhwanul Muslimin di Mesir pada tahun 1938, yang hadir di dalamnya para pemimpin dunia Arab, dan pada tahun 1947 sebagai respons terhadap seruan Ikhwanul Muslimin terbentuk sebuah yayasan yang terdiri dari berbagai kekuatan politik di Mesir yaitu “Yayasan Lembah Sungai Nil untuk menyelamatkan Al-Quds” .

Sebagaimana Ikhwanul Muslimin juga ikut berpartisipasi dalam jihad, dan mengirim para pengikutnya setelah diputuskan adanya pembagian tanah Palestina pada tahun 1947, yang mana mereka memiliki track record yang baik yang disaksikan oleh dunia, dan menorehkan sejarah dengan darah para syuhada akan jiwa kepahlawanan bersama ikhwan mereka di Palestina, dan juga yang diikuti oleh imam Al-Banna yang syahid pada tahun 1949.

Al-Banna dan Nasionalisme

Imam Al-Banna berpendapat bahwa nasionalisme dengan arti cinta kepada negara dan bernostalgia kepadanya, bekerja dengan keras untuk memerdekakannya dan memperkuat keberadannya, mempererat hubungan di antara anggota-anggotanya sehingga mampu memberikan manfaat bagi mereka, sebagai ideologi yang tepat yang ditetapkan oleh Islam adalah keniscayaan, karena itulah kami juga percaya dan meyakininya dan berusaha bekerja keras untuknya, sebagaimana yang diingatkan oleh Imam al-Banna bahwa Ikhwanul Muslimin merupakan manusia yang paling ikhlas terhadap negari mereka dan tanpa pamrih dalam memberikan pelayanan kepadanya, dan bahwa asas nasionalisme menurut mereka adalah aqidah yang berada di puncak tertinggi.

Dalam sebuah risalah “Ila syabab” (kepada para pemuda) Imam Al-Banna mengingatkan bahwa ikhwanul Muslimin terus bekerja untuk tanah air mereka yaitu Mesir, berjuang di jalannya, dan professional serta tanpa pamrih dalam berjihad di jalanya; karena Mesir adalah pemimpin negara Islam dan umat Islam, dan ini merupakan bagian pertama dari berbagai rangkaian menuju kebangkitan yang diidamkan, bahkan ia merupakan bagian dari negeri Arab secara umum, dan kami ketika sedang bekerja untuk Mesir berarti juga dalam usaha bekerja untuk Arab, timur dan Islam.

Karena itu, bahwa sikap nasionalisme yang dibangun oleh Imam Al-Banna mampu membina pada setiap individu perasaan loyalitas yang tinggi dan perasaan memiliki negeri Mesir serta rasa tanggung jawab terhadapnya, mampu membangkitkan jiwa untuk bekerja menuju kemerdekaan dan kemajuannya, dan pada saat yang bersamaan mampu memperluas cakrawala terhadap negeri, dengan anggapan bahwa Mesir merupakan bagian pertama dari kebangkitan.

Al-Banna dan persatuan Arab

Imam Al-Banna menjelaskan bahwa Arab dalam dakwah Ikhwanul Muslimi memiliki posisi yang sangat penting dan strategis, karena Arab merupakan umat Islam yang pertama, Islam muncul dan berkembang dari negeri Arab dan berbahasan Arab, dan mampu tersebar ke berbagai pelosok negeri melalui orang-orang Arab, dan kitab sucinya juga berbahasa Arab, dan bersatunya Bangsa-Bangsa dengan nama Islam atas lisan (bahasa) Arab, karena itu Arab adalah Inti Islam, dan Al-Banna memperingatkan akan bahaya lepasnya Mesir dari persatuan Arab, dengan menjelaskan bahwa berpegang teguhnya Mesir pada bahasa Arab dan Arabisme menjadikannya sebagai sebuah bangsa yang mengakar mulai dari Teluk Persia hingga ke Samudera Atlantik.

Imam Al-Banna juga menjelaskan bahwa persatuan Arab merupakan perkara yang sangat penting dan urgen untuk mengembalikan daulah Islam dan kemuliaannya. Dan wajib bagi setiap muslim untuk bekerja guna menghidupkan kembali persatuan Arab dan kesatuannya, begitupula mendukungnya dan membelanya, karena tanpa adanya persatuan kata pada bangsa Arab dan kebangkitannya maka tidak akan terjadi kebangkitan Islam, beliau berkata:

وَالْجَامِعَةُ الْعَرَبِيَّةُ فِي وَضْعِهَا الصَّحِيْحِ الَّذِي يَجْعَلُهَا جَامِعَةً حَقِيْقِيَّةً تَضُمُّ كُلَّ عَرَبِيٍّ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فِي الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، وَتَسْتَطِيْعُ أَنْ تَقُوْلَ كَلَمِتًهَا فَيَحْتَرِمُ هَذِهِ الكَلِمَةَ الْعَرَبُ وَغَيْرُ الْعَرَبِ، هَذِهِ الْجَامِعَةُ الْعَرَبِيَّةُ مِنْ وَاجِبِنَا أَنْ نَعْمَلَ عَلَى تَقْوِيَتِهَا وَتَدْعِيْمِهَا، وَمِنْ حَقِّنَا أَنْ يَعْتَرِفَ النَّاسُ بِهَا، وَأَنْ يُقََدِّرُوْهَا قَدْرَهَا، وَأَنْ يُؤْمِنُوا بِأَنَّهَا حِيْنَ تُقَوِّى وَتَعِزُّ سَتَكُوْنُ مِنْ أَقْوَى دَعَائِمِ الإِسْلاَمِ الْعَالَمِي

“Persatuan Arab yang berada pada posisi yang tepat akan mampu secara nyata adanya persatuan yang hakiki, yang menghimpun semua komponen Arab di muka bumi ini baik di timur maupun di barat, bahkan Arab akan mampu mengungkapkan ucapannya sehingga dihormati oleh Arab dan non-Arab, dan persatuan Arab ini sebagai bagian dari kewajiban kita untuk bekerja memperkuat dan mengkonsolidasikan serta mendukungnya, dan juga hak kita setiap umat manusia harus mengakui ini, menghargai dan menghormatinya, mengimani bahwa ketika kuat dan kokoh maka ia merupakan bagian dari kekokohan dan kekuatan pondasi Islam di seluruh dunia. “

Ikhwanul Muslimin telah menempatkan isu dunia Arab seluruhnya, terutama isu kemerdekaan negara-negara Arab dari kolonialisme Barat, dan isu persatuan Arab, dan mengisi semua surat kabar dan risalah mereka dengan berita-berita tentang dunia Arab dan membela akan isu-isunya, memberikan kesadaran akan kondisi politik dan militernya, dan tidak ada keraguan di dalamnya bahwa peran serta ikhwan dalam Perang Palestina pada tahun 1948 adalah merupakan bukti terbesar dan kongkrit akan perasaan yang mendalam mendalam terhadap permasalahan Islam yang terpatri dalam diri dan jiwa Ikhwanul Muslimin yang mana mereka secara suka rela berjuang di Palestina.

Al-Banna dan isu wanita

Imam Al-Banna juga sangat perhatian terhadap isu dan permasalahan wanita; sejak semula beliau telah menyadari akan urgensi dan peran penting wanita serta potensi social yang sangat besar yang terdapat dalam diri wanita, hal itu tampak dengan jelas akan semangat beliau mendirikan sekolah khusus untuk “akhwat muslimat” yang tidak hanya memberikan pengajaran dan pendidikan umum kepada para wanita namunjuga berfokus pada sisi lain berupa dengan memberikan tarbiyah kepada mereka akan nilai-nilai dan etika Islam, dan menganggap bahwa pengalaman itu merupakan upaya pertama yang serius di dunia Arab – di zaman modern – untuk kemajuan para wanita, menumbuhkan mereka secara intelektual, sosial dan politik; guna dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik di tengah bangsa mereka.

Dalam risalah “al-mar’ah muslimah” imam Al-Banna berkata:

وَالإِسْلاَمُ جَعَلَ الْمَرْأَةَ شَرِيْكَةَ الرَّجُلِ فِي الْحُقُوْقِ وَالْوَاجِبَاتِ، إِذْ هِيَ كَفْءُ الرَّجُلِ فِي إِنْسَانِيَّتِهِ وَمُسَاوِيَةٍ لَهُ فِي الْقَدْرِ، وَأَنَّهُ اعْتِرَافٌ لَهَا بِحُقُوْقِهَا الشَّخْصِيَّةِ كَامِلَةً وَبِحُقُوْقِهَا الْمَدَنِيَّةِ كَامِلَةً، وَبِحُقُوْقِهَا السِّيَاسِيَّةِ كَامِلَةً أَيْضًا، وَعَامِلُهَا عَلَى أَنَّهَا إِنْسَانٌ كَامِلُ الإِنْسَانِيَّةِ لَهُ حَقٌّ وَعَلَيْهِ وَاجِبٌ

Imam Al-Banna dalam (wanita Muslim): ” Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dan menjadikannya partner laki-laki dalam hak dan kewajiban. Karena Islam telah meninggikan derajat wanita dan mengangkat nilai kemanusiaannya serta menetapkannya sebagai saudara sebagai sesamanya dan partner bagi laki-laki dalam kehidupan. Islam mengakui hak-hak pribadi, hak-hak peradaban, dan hak-hak politik wanita secara umum dan sempurna. Islam memperlakukannya sebagai manusia dengan kesempurnaan kemanusiaannya yang memiliki hak dan kewajiban. “

Al-Banna dan orang-orang Koptik

Imam Al-Banna dalam berbagai ceramah dan risalahnya banyak memberikan sikap kepada minoritas, terutama Koptik, dalam risalah (dakwatuna) beliau berkata:

إَنَّ الإِسْلاَمَ دِيْنُ الْوِحْدَةِ وَدِيْنُ الْمُسَاوَاةِ، وَأَنَّهُ كَفَّلَ هَذِهِ الرَّوَابِطَ بَيْنَ الْجَمِيْعِ مَا دَامُوْا مُتَعَاوِنِيْنَ ﴿لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِينِ ولَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وتُقْسِطُوا إلَيْهِمْ إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ المُقْسِطِينَ، فَمِنْ أَيْنَ يَأْتِي التَّفْرِيْقُ إِذَنْ؟

“Islam adalah agama persatuan dan menghargai pluralitas, dan Islam menjamin hubungan dan ikatan ini selama mereka mau bekerja sama “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil”. (Mumtahanah:8), jadi dimanakah letak perbedaan/perpecahan itu?

Dan dalam risalah (nahwa nur) beliau menyampaikan:

إِنَّ الإِسْلاَمَ يَحْمِي الأَقَلِيَّاتِ عَنْ طَرِيْقِ: أَنَّهُ قَدَّسَ الْوِحْدَةَ الإِنْسَانِيَّةَ الْعَامَّةَ وَالْوِحْدَةَ الدِّيْنِيَّةَ الْعَامَّةَ بِأَنْ فَرَضَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ بِهِ الإِيْمَانَ بِكُلِّ الرِّسَالاَتِ السَّابِقَةِ، ثُمَّ قَدَّسَ الْوِحْدَةَ الدِّيْنِيَّةَ الْخَاصَّةَ فِي غَيْرِ تِعْدٍ وَلاَ كِبْرٍ، وَيَقُوْلُ إِنَّ هَذَا هُوَ (مَزَاجُ الإِسْلاَمِ الْمُعْتَدِلِ) لاَ يَكُوْنُ سَبَبًا فِي تَمْزِيْقِ وِحْدَةٍ مُتَّصِلَةٍ، بَلْ يُكْسِبُ هَذِهِ الْوِحْدَةُ صِفَةََ الْقُدَاسَةِ الدِّيْنِيَّةِ، بَعْدَ أَنْ كَانَتْ تَسْتَمِدُّ قُوَّتُهَا مِنْ نَصٍّ مَدَنِيٍّ فَقَطْ

“Islam melindungi kaum minoritas dengan cara: karena Islam sangat mensucikan persatuan kemanusiaan secara umum dan persatuan keagamaan secara khusus dengan mewajibkan kepada orang-orang yang beriman kepadanya untuk meyakini dengan seluruh risalah sebelumnya, dan kemudian mensucikan persatuan agama secara khusus tanpa berlebihan dan keangkuhan, , dan beliau mengatakan bahwa hal ini merupakan (model Islam moderat) tidak akan menjadi alasan dalam memecah belah persatuan yang saling menyambung, namun diharapkan mampu memperoleh model dan karakter kesucian agama, setelah meletakkan sumber kekuatannya pada teks sipil saja. “

Begitu pula beliau mewasiatkan dalam risalah Ilas syabab-nya untuk bersikap moderat dan adil kepada suku Koptik dan berbuat baik dalam berinteraksi kepadanya: “Bagi mereka apa yang menjadi bagian kita dan atas mereka apa yang mereka atas kami”.; jangan sampai kita menyerukan pada apharteidsme atau fanatisme kelompok.

Al-Banna dan sistem ekonomi

Imam Al-Banna juga menyerukan kemerdekaan ekonomi dari dominasi asing dan peningkatan perekonomian nasional. Karena itu dalam berbagai seruannya menuntut untuk mewujudkan hal tersebut seperti kerajinan tangan, melakukan perubahan dari bentuk industri kepada pertanian, dan membimbing umat Islam untuk mengurangi kemewahan, dan peduli terhadap proyek-proyek nasional.

Dan ikhwanul Muslimin juga telah berusaha melampaui seruan teoritisnya pada kebangkitan dan kemandirian ekonomi; karena itu mereka menyeru untuk melakukan boikot terhadap berbagai barang, toko dan perusahaan asing, dan mendirikan berbagai perusahaan yang memberikan kontribusi pada bidang ekonomi, dan mengajak kepada para pekerja untuk menuntut hak-hak mereka dalam surat kabar dan buku-buku mereka.

Al-Banna dan tatanan konstitusional

Imam Al-Banna dalam (Risalah muktamar al-khamis) berkata:

إن طبيعة الإسلام التي تساير العصور والأمم، وتتسع لكل الأغراض والمطالب، لا تأبى أبدًا الاستفادة من كل نظامٍ صالحٍ لا يتعارض مع قواعده الكلية وأصوله العامة”، ولقد طبَّق الإمام البنا هذا المنهج على الموقف من النظام النيابي والدستوري الذي تبلور في تجارب الديمقراطيات الغربية

“Bahwa tabiat Islam yang selalu konsideran dengan perkembangan zaman dan bangsa, dan mengakomodasi berbagai tujuan dan tuntutannya, selamanya tidak menolak untuk tidak mengambil keuntungan dari semua sistem yang berlaku selama tidak bertentangan dengan aturan-aturan umum dan konsep-konsep dasarnya,” dan Imam al-Banna telah menerapkan metode dan manhaj dalam sistem parlementer dan konstitusional yang muncul dalam demokrasi Barat, dalam (risalah nahwan nur) beliau berkata:

إنه ليس في قواعد هذا النظام النيابي الذي نقلناه عن أوروبا ما يتنافى مع القواعد التي وصفها الإسلام لنظام الحكم، وهو بهذا الاعتبار ليس بعيدًا عن النظام الإسلامي ولا غريبًا عنه

“Ini bukanlah penerapan aturan system parlementer yang kita contoh dari Eropa yang bertentangan dengan Islam dan sistem pemerintahan, sebagaimana pula yang demikian tidak jauh dari sistem Islam dan tidak asing darinya. “

Karena itu Prinsip dan tujuan yang dibawa oleh Islam dalam menerapkan kebijakan umat dan Negara akan dapat dicapai dengan “sistem sipil” dan “pengalaman manusia” yang merupakan kreativitas manusia, dan norma dalam penerimaan dan penolakan adalah sejauh mana mampu mewujudkan sistem ini untuk kepentingan Islam pada keterlibatan bangsa dan umat dalam kemapuan melakukan pengambilan keputusan dan mewujdukan keadilan di tengah umat manusia.

Demikianlah sosok imam syahid Hasan al-Banna yang mampu merasakan berbagai permasalahan umatnya dengan ruhnya, indranya, akalnya dan pemikirannya, dan Ikhwanul Muslim hingga saat ini masih berjalan di atas manhajnya, berpegang teguh dengan prinsip-prinsip dan parameter yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, begitu pula dengan dengan sikap-sikapnya yang jelas dan tegas terhadap berbagai masalah bangsa di mana ia hidup di dalamnya, rela mati syahid untuknya, dan inilah yang pernah dikenalkan oleh Imam Banna dalam ugnkapannya yang universal pada saat beliau ditanya: “Siapakah Anda” lalu beliau menjawab:

أَنَا سَائِحٌ يَطْلُبُ الْحَقِيْقَةَ، وَإِنْسَانٌ يَبْحَثُ عَنْ مَدْلُوْلِ الإِنْسَانِيَّةِ بَيْنَ النَّاسِ، وَمُوَاطِنٌ يُنْشِدُ لِوَطَنِهِ الْكَرَامَةَ وَالْحُرِّيَّةَ وَالاِسْتِقْرَارَ وَالْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ فِي ظِلِّ الإِسْلاَمِ الْحَنِيْفِ، وَمُتَجِّرٌد أَدْرَكَ سِرَّ وُجُوْدِهِ؛ فَنَادَى ﴿قُلْ إنَّ صَلاتِي ونُسُكِي ومَحْيَايَ ومَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ. لا شَرِيكَ لَهُ وبِذَلِكَ أُمِرْتُ وأَنَا أَوَّلُ المُسْلِمِينَ

“Saya adalah seorang turis yang mencari kebenaran kebenaran, seorang manusia yang mencari makna kemanusiaan di tengah umat manusia, seorang warga negara yang mendambakan negaranya memiliki martabat, kebebasan dan stabilitas serta kehidupan yang baik dibawah naungan Islam yang suci, dan seorang yang kosong berharap menemukan rahasia eksistensinya di dunia; lalu beliau berkata: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al-An’am:162-163)